Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki

 

Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki

Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki

Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki

Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki

Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki

Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki


Slamet ikut mengantar takziah ke rumah almarhum Masduki—jaraknya tak jauh, hanya sekitar dua kilometer dari rumahnya. Perjalanan kembali membawa kami melewati jalan dekat Masjid At-Taqwa, namun kali ini kami berbelok ke arah barat, menuju sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari pom bensin Gasoline 92.


Rumah almarhum unik: ia menghadap dua arah sekaligus—selatan dan barat. Satu sisi menghadap jalan utama, sementara sisi lainnya menghadap pelataran terbuka, memberi kesan hangat dan terbuka bagi siapa pun yang datang.


Masduki adalah anak kedua dari empat bersaudara laki-laki. Kakak tertuanya bernama Toat, lalu Masduki sendiri, disusul oleh adik-adiknya yang masing-masing berprofesi sebagai guru dan polisi. 

Keluarga ini merupakan keturunan dari adik Mbah Matsningso.


Mbah Matsningso sendiri memiliki tiga putri—Patonah, Katoyah, dan Toyibatun—serta seorang putra bernama Suwardi, yang lahir dari ibu yang berbeda. Menariknya, Mbah Matsningso juga memiliki seorang adik, yang tak lain adalah kakek dari ibunda Masduki. Jadi, silsilah keluarga ini menyambung lewat dua garis keturunan yang berpadu dalam satu ikatan besar.

Mbah Runtuh, dulu rumahnya dekat dengan Slamte, trus pindah.
Beliau merupakan ibu dari Pak Matali beristrikan Bu Marsiyah dari Godong, punya anak 4, Toat, Masduki(Almarhum) , Tofa, Didik..

Seperti banyak keluarga di awam pada masa lalu, catatan silsilah tidak pernah dituliskan secara resmi. Semuanya diwariskan secara lisan—dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi—menjadi bagian dari memori kolektif yang hidup dalam cerita-cerita atau saat berkumpul.


Di rumah duka, kami berbincang panjang lebar dengan adik-adik Masduki. Obrolan mengalir hangat, penuh kenangan dan rasa hormat. Tak lama kemudian, datang rombongan ibu-ibu pengajian untuk menggelar tahlilan dan membaca Yasin bersama. Suasana pun berubah khidmat, dipenuhi doa dan harapan baik untuk almarhum.


Kami bertahan cukup lama di sana, hingga akhirnya tiba waktunya berpamitan dengan hati tenang, namun tetap membawa rasa kehilangan yang mendalam.

Kami pun pulang ke Probolinggo dengan terlebih dahulu mampir ke Sidoarjo, mengantar kakak-kakak dan cucu-cucu keponakan...

---ooo000ooo---


Popular posts from this blog

IZYAN SANG PENDAR CAHAYA