"Teman Waktu di Leces (2)"
"Teman Waktu di Leces (2)" Tepat di depan rumah Cak Agus Heri, aku hendak mengulurkan salam lebih dulu seperti biasa. Namun Cak Munif mendahului. Terpaksa kususul dengan salam tambahan agar tak terasa hambar. Tak lama, terdengar jawaban dari dalam rumah. Sejujurnya, kami tak yakin tuan rumah ada—kami datang persis waktu Dhuhur, dan Cak Agus dikenal rajin ke mushola atau masjid. Tapi seperti kata pepatah: malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Hari itu keberuntungan berpihak pada kami. Ternyata ia ada di rumah. Dengan raut penuh tanda tanya, Cak Agus beserta istrinya menyambut kami. Mungkin karena posisinya sebagai Ketua RW, kedatangan tamu tak lagi mengherankan baginya. Yang mengejutkan: ia tak lupa padaku. Tangannya kujabat erat, tubuhnya kudekap—rasa rindu yang tertahan puluhan tahun tiba-tiba menggenang. Namun ia tampak penasaran dengan sosok di sampingku. Agak pangling. Munif nyeletuk, "Biarkan saja bingu...