Posts

Sabtu yang Penuh Syukur

Image
  Sabtu yang Penuh Syukur Tasyakuran Keluarga, Mobil Baru, dan Berkah yang Tak Terduga Sabtu Siang, 2 Mei 2026 Jarum jam baru saja menyentuh angka 13.30 ketika kami mulai melaju. Tujuan kali ini sederhana: Resto Oren , yang letaknya persis di jantung kota. Sebelum berangkat, kami singgah sebentar ke Perumahan Graha Tata Nusantara, Jl. PO Nusantara , Kanigaran, untuk menjemput Mas Undra dan Mbak Rani. Total ada tujuh orang dewasa plus satu bayi lucu bernama Edgar yang usianya baru empat bulan. Awalnya kukira sesak, tapi ternyata mobil baru Daihatsu Terios milik Mas Prima ternyata cukup lapang. Mobil ini baru dau minggu dirakit, sehingga aroma khas “mobil baru” masih terasa hangat di kabin. Yang paling kusyukuri, joknya empuk dan nyaman, persis seperti yang kuinginkan, mengingat punggungku kurang cocok dengan kursi yang terlalu keras. Sesampainya di Resto Oren , suasana cukup tenang. Kami leluasa memilih meja dan memesan hidangan sesuai selera masing-masing. Tak lama, b...

Pagi yang Tak Terduga.

Image
  Pagi yang Tak Terduga, Obrolan yang Menghangatkan   Pagi itu, aku sengaja berjemur di depan rumah dengan membelakangi pagar, berniat menghangatkan punggung. Kebetulan, rumahku menghadap ke timur, sehingga sinar matahari pagi menyapa dengan lembut dan hangat. Tak berapa lama, suara mesin mobil pickup terdengar dan berhenti tepat di depan pagar. Aku hanya diam, mengira itu kendaraan tamu tetangga yang sedang parkir sejenak. Namun, beberapa menit kemudian, pengemudinya turun dan bersuara agak lantang , “Kasur yang sebelah mana, Pak, yang akan diangkut?”   Aku terhenyak, segera berdiri dan menghampirinya. Sempat terkejut, kupikir ia datang untuk mengambil paket milik Rani. Ternyata, yang turun adalah Cak Pandu , teman lamaku semasa bekerja di Pabrik POMI. Wajahnya masih familiar, sikapnya pun tetap bersahaja, sama sekali tak menunjukkan kesan sombong meski tahun telah berganti.   Kami pun mengobrol singkat . Cak Pandu kini telah menjadi kakek dari empat...

Menempati Rumah Baru (2)

Image
Menempati Rumah Baru (2) Rumah Undra dan Rani tampak cukup lega, Merekapun juga terlihat lega, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi, apalagi untuk standar generasi masa kini. Sebenarnya, mereka membeli dua rumah yang berdampingan, lalu menyatukannya menjadi satu hunian. Hasilnya? Ruang yang terasa jauh lebih luas dan nyaman. Bagian dapur sengaja dirancang menyatu dengan ruang keluarga, hanya dipisahkan oleh sebuah meja dapur yang berfungsi sebagai sekat minimalis. Konsep terbuka ini membuat suasana terasa lebih hangat dan akrab. Saat berkunjung, aku sempat beristirahat sejenak di kamar depan yang sementara dialihfungsikan sebagai musala. Tak lama kemudian, Pak Henky dan Bu Agus —orang tua Undra —turut hadir. Kami pun menikmati suguhan sore sambil berbincang santai. Almas, b egitu melihat tamu datang, dengan sigap menyerahkan Edgar , bayinya yang baru berusia tiga bulan, kepada Bu Agus untuk digendong. Sementara itu, Rani iseng mencoba memainkan piano yang sudah lama tak tersentuh...

MENEMPATI RUMAH BARU

Image
 MENEMPATI RUMAH BARU Alhamdulillah, Undra dan Rani kini telah resmi pindah dan menempati rumah baru mereka. Sebuah langkah penting dalam perjalanan hidup setelah dua tahun membangun rumah tangga bersama. Prosesi yang dilakukan berlangsung sederhana, dengan nuansa Jawa yang seminim mungkin namun tetap sarat makna.  Dalam momen itu, Aku dan Istri sebagai orang tua seakan mengambil peran sebagai tuan rumah, menyambut sekaligus “menerima” kedua anakku tepat di depan pintu masuk rumah baru mereka. Sebuah simbol restu, harapan, dan doa agar rumah tersebut benar-benar menjadi tempat bernaung yang penuh berkah. Sejak pagi, suasana sudah terasa hangat dengan adanya acara khataman yang berlangsung hingga menjelang siang.  Lantunan ayat-ayat suci mengalir menenangkan, menandai awal yang baik bagi hunian baru ini.  Acara kemudian ditutup dengan tasyakuran, sebagai ungkapan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan. Rumah itu sendiri cukup luas, terlebih untuk pasangan yan...

Perjalanan Pulang

Image
  "Perjalanan Pulang" Menembus Kabut Menuju Probolinggo 1. Memasuki Dunia di Atas Awan Setelah momen emosional di Malang usai, kami memulai perjalanan pulang menuju Probolinggo. Memasuki ruas Tol Malang-Pandaan (Mapan) , suasana seketika berubah. Di sekitar area Lawang hingga Purwodadi, kabut tebal mulai turun menyelimuti aspal hitam, seolah-olah kami sedang berpindah ke dimensi lain. Udara malam yang dingin terasa merasuk ke dalam kabin. Di sisi kiri dan kanan, kemegahan gunung yang tadi siang tampak gagah kini hilang ditelan putihnya halimun. Rasanya sangat mistis, seolah-olah kami sedang berkendara di "atas awan" dalam sebuah jalur lurus yang tak berujung. 2. Tantangan Adrenalin di Jalur Gempol Perjalanan berlanjut menuju Tol Gempol . Di sini, kabut bukan lagi sekadar hiasan, melainkan tantangan nyata bagi kewaspadaan. Pandangan menjadi sangat terbatas, memaksa kami untuk lebih waspada. Lampu hazard dari kendaraan di depan sesekali berkedip, memberi tanda darura...