Posts

"Teman Waktu di Leces (2)"

Image
  "Teman Waktu di Leces (2)" Tepat di depan rumah Cak Agus Heri, aku hendak mengulurkan salam lebih dulu seperti biasa.  Namun Cak Munif mendahului. Terpaksa kususul dengan salam tambahan agar tak terasa hambar. Tak lama, terdengar jawaban dari dalam rumah.  Sejujurnya, kami tak yakin tuan rumah ada—kami datang persis waktu Dhuhur, dan Cak Agus dikenal rajin ke mushola atau masjid.  Tapi seperti kata pepatah: malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.  Hari itu keberuntungan berpihak pada kami.  Ternyata ia ada di rumah. Dengan raut penuh tanda tanya, Cak Agus beserta istrinya menyambut kami.  Mungkin karena posisinya sebagai Ketua RW, kedatangan tamu tak lagi mengherankan baginya.  Yang mengejutkan: ia tak lupa padaku.  Tangannya kujabat erat, tubuhnya kudekap—rasa rindu yang tertahan puluhan tahun tiba-tiba menggenang.  Namun ia tampak penasaran dengan sosok di sampingku.  Agak pangling. Munif nyeletuk, "Biarkan saja bingu...

Teman Waktu di Leces

Image
 Teman Waktu di Leces Kamis, 29 Januari 2026 . Pagi masih malu-malu menyelinap lewat celah tirai ketika notifikasi WhatsApp bergetar pelan di genggaman.  Sebuah kabar duka muncul di grup lama, grup yang dulu dibuat Pak Ali Mas'ud, kepala bagian yang karier gemilangnya membawanya hingga menjadi Kepala Dinas. Sekarang malah rumahnya sekitar 1 km dari rumahku...  Ada khabar dari Cak Priambodo, Isinya memberitakan kepergian Zainul Arifin, teman sekaligus tetangga di Perumahan KLI (Kertas Leces Indah) , Desa Tegalsiwalan, Probolinggo. Zainul—lahir 1963, berpulang Rabu, 28 Januari 2026.  Namanya langsung mengusik memori lama.  Dulu, di masa muda yang penuh gejolak, aku sering dijadikan "obat nyamuk" Pernah diajak kerumah Watio di Daerah Wonokromo atau di Rumah Kostannya di daerah Satelit Leces. Meski teman-temannya mengolok2 aku, tapi aku ngga merasa risih... B-Aja kata anak jaman now... Segera kuforward kabar itu ke Cak Munif, sahabat karib Zainul. Cak Munif ya...

Menunggu Hasil Lab

Image
 Menunggu  Hasil Lab Rabu siang, 7 Januari 2026, jarum jam tepat menunjuk angka dua belas ketika Edgar kembali menjalani kontrol. Ruang perawatan bayi dipenuhi aroma antiseptik dan suara mesin yang berdengung pelan. Hasil laboratorium itu kembali muncul di layar: bilirubin 18 . Angka yang sama, angka yang membuat jantung orang tua mana pun berdebar. Perawat kesehatan yang bertugas menyampaikan keterangan dengan nada datar dan terburu-buru. Penjelasannya terasa kaku, bahkan cenderung berbeda arah dengan penjelasan yang sebelumnya mereka dengar. “Masih tinggi, harus ini dan itu,” katanya singkat, tanpa memberi ruang untuk memahami maknanya. Almas pun bingung. Bukan karena informasinya, tetapi karena cara penyampaiannya yang membuat cemas tumbuh tanpa pegangan. Perawat itu belum beranjak dari situ tiba-tiba seorang Dokter berkata dengan nada cukup tinggi ke arah perawat tersebut "Kamu jangan mengintervensi Dokter Ya !" .. (rupanya sikap Perawat itu agak kelewatan sehingga dokt...

TILIK BAYI

Image
 "TILIK BAYI" Siang itu rumah terasa lebih hidup dari biasanya.  Datang tiga tamu istimewa: Bu Jasmadi, Bu Yoza, dan Bu Ratmono.  Orang Jawa bilang, ini namanya tilik bayi menjenguk bayi sekaligus menyambung silaturahmi.  Tapi rasanya bukan sekadar tilik bayi biasa.  Ada cerita, tawa, dan pelajaran hidup yang mengalir begitu saja. Vibes mereka memang berbeda. Bu Jasmadi, lulusan FISIP Unair, berbicara lugas dan reflektif.  Bu Yoza, seorang akuntan, tenang namun penuh kisah.  Sementara Bu Ratmono, dokter hewan lulusan UGM, hadir dengan gaya khas yang membumi.  Latar belakang yang berbeda, tapi justru itulah yang membuat obrolan semakin kaya. Asal-usul mereka pun beragam. Bu Jasmadi berasal dari Bojonegoro, sementara Pak Jasmadi dari Lamongan.  Bu Yoza ternyata dari Aceh.  Cerita jodohnya cukup menggelitik—dulu Pak Yoza pernah ngekos di rumah Bu Yoza,  Bahkan sekolah dasar mereka sama, namun tak pernah saling mengenal.  Takdir ju...

IZYAN SANG PENDAR CAHAYA

Image
CERITA KELAHIRAN DI RSU AMANAH: HARI DI MANA IZYAN MENJADI SANG PENDAR CAHAYA Kamis, 1 Januari 2026. Matahari pagi baru saja hangatkan Kota Probolinggo. Tapi, di Ruang Amirah 2 RSU Amanah, kami sudah sibuk dalam sebuah puncak keajaiban yang panjang sembilan bulan. Putri kami, Geyandari Almas, adalah kesatria sejati. Melalui proses persalinan yang lancar luar biasa, dia berjuang dengan tabah. Namun, sang putra mahkota ternyata seorang yang tangguh dan berukuran heroik: 4 kilogram lebih 25 ons! Keputusan bijak dr. Budhi Prasetia Santoso, Sp.OG, demi keselamatan ibu dan anak, membawa kami ke ruang operasi dengan langkah percaya. Dan… pada pukul 09.13 WIB, tangisnya mengisi udara. Suara itu bukan tangis biasa, tapi orkestra paling indah yang pernah kami dengar. Edgar Izyan Hanugraha hadir ke dunia. Sebuah nama yang bermakna “penuh kemakmuran” dan “cahaya”. Berat 4025 gram dan tinggi 49 cm, seorang bayi laki-laki yang gagah sejak napas pertamanya. Ruangan yang kami pilih, Amirah 2, adalah s...

Malam Mitoni di Tengah Macet dan Kenangan

Image
  Malam Mitoni di Tengah Macet dan Kenangan Sabtu malam itu, kami berangkat bersama menuju acara mitoni—atau yang di Jawa dikenal sebagai tingkeban—perayaan kehamilan yang diadakan saat kandungan memasuki bulan ketujuh, terutama untuk anak pertama. Almas, yang kini tengah mengandung usia tujuh bulan, telah lama menyiapkan undangan dengan penuh cinta. Kami menjemputnya bersama Undra dan Rani menggunakan mobil Kijang yang setia, lalu mampir terlebih dahulu ke rumah Bu Eny di Jalan Yos Sudarso Gang 5 No. 6, karena ia juga diundang. Perjalanan ke New Kraksaan Land B03 membawa kami melewati Dringu, di mana kami sempat mampir ke SPBU untuk mengisi solar—sesuatu yang belakangan ini jadi hal langka. Alhamdulillah, kali ini masih tersedia. Di kota, hampir setiap SPBU yang kami datangi hanya memberi isyarat “habis” lewat lambaian tangan petugas—bukan salam biasa, melainkan kode halus bahwa solar belum datang. Sesampainya di lokasi, suasana sudah ramai. Prima dan Almas menyambut hangat, dida...

Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki

Image
  Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki Slamet ikut mengantar takziah ke rumah almarhum Masduki—jaraknya tak jauh, hanya sekitar dua kilometer dari rumahnya. Perjalanan kembali membawa kami melewati jalan dekat Masjid At-Taqwa, namun kali ini kami berbelok ke arah barat, menuju sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari pom bensin Gasoline 92. Rumah almarhum unik: ia menghadap dua arah sekaligus—selatan dan barat. Satu sisi menghadap jalan utama, sementara sisi lainnya menghadap pelataran terbuka, memberi kesan hangat dan terbuka bagi siapa pun yang datang. Masduki adalah anak kedua dari empat bersaudara laki-laki. Kakak tertuanya bernama Toat, lalu Masduki sendiri, disusul oleh adik-adiknya yang masing-masing berprofesi sebagai guru dan polisi.  Keluarga ini merupakan keturunan dari adik Mbah Matsningso. Mbah Matsningso sendiri memiliki tiga putri—Patonah, Katoyah, dan Toyibatun—serta seorang putra bernama Suwardi, yang lahir dari ibu yang berbeda. Menariknya, Mbah Matsn...