Malam Mitoni di Tengah Macet dan Kenangan
Malam Mitoni di Tengah Macet dan Kenangan
Sabtu malam itu, kami berangkat bersama menuju acara mitoni—atau yang di Jawa dikenal sebagai tingkeban—perayaan kehamilan yang diadakan saat kandungan memasuki bulan ketujuh, terutama untuk anak pertama. Almas, yang kini tengah mengandung usia tujuh bulan, telah lama menyiapkan undangan dengan penuh cinta. Kami menjemputnya bersama Undra dan Rani menggunakan mobil Kijang yang setia, lalu mampir terlebih dahulu ke rumah Bu Eny di Jalan Yos Sudarso Gang 5 No. 6, karena ia juga diundang.
Perjalanan ke New Kraksaan Land B03 membawa kami melewati Dringu, di mana kami sempat mampir ke SPBU untuk mengisi solar—sesuatu yang belakangan ini jadi hal langka. Alhamdulillah, kali ini masih tersedia. Di kota, hampir setiap SPBU yang kami datangi hanya memberi isyarat “habis” lewat lambaian tangan petugas—bukan salam biasa, melainkan kode halus bahwa solar belum datang.
Sesampainya di lokasi, suasana sudah ramai. Prima dan Almas menyambut hangat, didampingi besan, Pak dan Bu Suwanto. Tak lama berselang, Devi datang seusai menjaga tokonya di dekat Paiton.
Di tengah acara, perutku tiba-tiba mulas. Aku pun segera menunaikan hajat—sekalian menunaikan salat Maghrib. Tak lama setelah itu, para tamu mulai berdatangan. Kebanyakan masih muda... sampai aku teringat: Ya ampun, aku memang sudah tua, ya? (Tertawa kecil dalam hati.)
Usai pengajian dan doa bersama, hidangan sate ayam dan lontong disajikan—masih panas, segar, dan menggoda. Almas bahkan memesankan porsi khusus untukku—tentu tanpa bumbu dan lontong, menghormati gaya makanku yang keto. Terima kasih, Almas.
Perjalanan pulang membawa kejutan lain: kemacetan total di perempatan tak simetris dekat Kandang Jati. Antara Jalan Sahara (utara), Jalan Dr. Sutomo (selatan), dan Jalan Panglima Sudirman yang menyambung ke Pantura—semuanya bertemu tanpa pengaturan lalu lintas yang memadai. Apalagi malam itu ada acara besar di Stadion Gelora. Tanpa barier atau petugas, arus kendaraan saling bertabrakan dalam arti sebenarnya—secara logistik, bukan emosi. Kami hanya bisa bersabar hingga akhirnya bisa bermanuver keluar dari kemacetan itu. Alhamdulillah, sampai juga di Probolinggo.
Setelah mengantar Bu Eny pulang, kami kembali ke rumah—lelah, tapi hati penuh rasa syukur. Malam itu bukan hanya tentang mitoni, tapi tentang kebersamaan, kecilnya kehidupan, dan hangatnya ikatan keluarga yang tak pernah pudar.





.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
