Menunggu Hasil Lab
Menunggu Hasil Lab
Rabu siang, 7 Januari 2026, jarum jam tepat menunjuk angka dua belas ketika Edgar kembali menjalani kontrol. Ruang perawatan bayi dipenuhi aroma antiseptik dan suara mesin yang berdengung pelan. Hasil laboratorium itu kembali muncul di layar: bilirubin 18. Angka yang sama, angka yang membuat jantung orang tua mana pun berdebar.
Perawat kesehatan yang bertugas menyampaikan keterangan dengan nada datar dan terburu-buru. Penjelasannya terasa kaku, bahkan cenderung berbeda arah dengan penjelasan yang sebelumnya mereka dengar. “Masih tinggi, harus ini dan itu,” katanya singkat, tanpa memberi ruang untuk memahami maknanya. Almaspun bingung. Bukan karena informasinya, tetapi karena cara penyampaiannya yang membuat cemas tumbuh tanpa pegangan.
Perawat itu belum beranjak dari situ tiba-tiba seorang Dokter berkata dengan nada cukup tinggi ke arah perawat tersebut "Kamu jangan mengintervensi Dokter Ya !"..
(rupanya sikap Perawat itu agak kelewatan sehingga dokterpun sampai marah.)
Dokter Ferys menghampiri Edgar, menatapnya dengan penuh perhatian. Dengan bahasa yang sederhana namun jelas, ia menjelaskan kondisi penyakit kuning pada bayi, menyelaraskan penjelasan medis dengan rasa kemanusiaan. Ia juga meluruskan perbedaan informasi yang sebelumnya membuat bingung. “Intinya kita pantau, kita tenangkan bayinya, dan kita kuatkan asupannya,” katanya lembut.
Di saat yang sama, Almas kembali percaya. Bukan hanya pada prosedur, tetapi pada proses. Ia teringat betapa Edgar begitu pintar menyusu ASI, dan betapa ia sendiri menjaga asupan makanan demi kualitas ASI. Rachman dan Prima pun terus mengantarkan ASI beku dari rumah menuju Rumah Sakit Amanah, seolah setiap perjalanan adalah doa yang bergerak.
Hari ketiga pun tiba. Hasil lab kembali dinanti. Di antara kecemasan dan harapan, ada rasa syukur yang tumbuh diam-diam—bahwa di ruang medis yang dingin, masih ada kehangatan; bahwa di tengah informasi yang berlainan, selalu ada suara yang menenangkan; dan bahwa terkadang, harapan datang dalam wujud yang sangat menggemaskan—seperti seorang teman lama bernama Dokter Echa yang muncul tepat saat dibutuhkan.
