Menunggu pemberangkatan
Berangkat dari Paiton jam 1 malam. Jalanan lengang, hanya sesekali terlihat lampu kendaraan lain menyala dari arah berlawanan. Suasana hening, udara luar dingin menyusup masuk lewat celah kaca mobil yang sedikit terbuka. Kami melaju pelan, tidak terburu-buru, karena sudah tahu: perjalanan seperti ini bukan soal kecepatan, tapi soal kebersamaan dan niat yang sudah dibangun sejak jauh-jauh hari.
Jam 4 pagi, akhirnya sampai juga di Malang. Kota ini selalu punya udara yang khas, sejuk tapi terasa akrab. Begitu turun, langsung cari mushola buat sholat shubuh. Suasana masih senyap, langit belum benar-benar terang, tapi ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Setelah sholat, barulah kami duduk-duduk santai, menunggu waktu pemberangkatan.
Ini memang sudah jadi kebiasaan tiap kali ada acara bersepeda. Datang lebih awal, menunggu lama, lalu baru bisa mulai gowes setelah semua siap. Tapi justru di waktu-waktu menunggu seperti inilah sering terjadi obrolan kecil yang berkesan. Ada yang cerita soal sepedanya, ada yang bahas rute, bahkan tak jarang bercanda soal siapa yang duluan ngos-ngosan di tanjakan nanti.
Menunggu memang bukan hal yang menyenangkan bagi sebagian orang. Tapi buat kami, ini bagian dari perjalanan itu sendiri. Karena di balik semua rasa kantuk dan pegal karena belum tidur, ada semangat yang tak pernah padam: semangat untuk menikmati perjalanan, menikmati alam, dan tentu saja — menikmati kebersamaan.