Judul: Sambutan Hangat Khas Tulungagung di Rumah Pak Iwan dan Bu Iwan

rambak


Sambutan Hangat Khas Tulungagung di Rumah Pak Iwan dan Bu Iwan


Perjalanan silaturahmi kami lanjutkan ke tetangga sebelah.
Meski rumah Pak Iwan dan Bu Iwan masih satu jalan dengan Pak Wawan, alamat pastinya masih menjadi misteri bagi kami. Beruntung, petunjuk dari Pak Wawan tadi sangat membantu: "Jalan Madura juga, nomor 14." Ingatanku melayang, oh, dulu tempat ini似乎 ditempati oleh anak seorang chemist.


Pintu terbuka, dan kami disambut oleh Bu Iwan dengan energi yang begitu hangat.
Beliau, yang sehari-hari mengabdi sebagai Satpol PP Kraksaan, sedang ditemani oleh putra-putranya di rumah.
Sementara itu, Pak Iwan masih bertugas di pabrik sebagai Shift Supervisor di bagian Produksi.


Keluarga ini dikaruniai tiga orang putra yang sudah mandiri semua. "Artinya tidak repot-repot masak," canda Bu Iwan.
Semua kebutuhan makanan bisa dipenuhi dengan mudah di kantin perumahan atau koperasi.
Sungguh sebuah kemandirian keluarga yang patut diacungi jempol.


Obrolan pun sampai pada cerita pengalaman haji mereka.
Kami penasaran, bagaimana cara mereka mengawasi anak-anak dari seberang lautan? Dengan senyum lebar dan sikap yang sangat tenang, Bu Iwan menjawab, "Beres pokoknya, yang penting ada *ini*." Beliau menggesekkan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya, gerakan universal yang berarti 'uang', sambil terkekeh. "Yang penting bisa transfer ke tanah air!" ujarnya.
Jawaban yang begitu jujur dan praktis, membuat kami semua ikut tertawa. Itulah kunci ketenangan mereka menjalankan ibadah.


Pak Iwan ternyata asli Tulungagung, dan merupakan teman seangkatan dengan Pak Mujiono di Jalan Madura No. 1.
Sementara Bu Iwan adalah putri asli Kraksaan dengan logat Madura medoknya yang khas. Cara bicaranya blak-blakan, "tidak pakai tedheng aling-aling", seru dan bersemangat, membuat suasana jadi semakin cair dan berwarna.


Kebetulan yang membahagiakan, kami membawa oleh-oleh rambak (kerupuk kulit) khas Tulungagung.
Alih-alih kami yang memberi, justru Bu Iwan-lah yang dengan sigap memberikan kami seplastik besar rambak kerbau Tulungagung, persis kesukaan saya! "Ini, dari sana aslinya!" katanya. Alhamdulillah, rezeki yang tak terduga.


Sebelum berpamitan, saya mohon izin untuk menunaikan sholat Maghrib terlebih dahulu.

Sebelum berpamitan,  Bu Iwan memimpin doa dengan penuh kekhusyukan untuk kelancaran Keberangkatan Haji kami.
Kami mengaminkan dengan takzim, merasakan keikhlasan dalam setiap katanya.


Dengan hati yang hangat dan oleh-oleh yang berharga, kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah berikutnya: kediaman Pak Yoga dan Bu Yoga.

Popular posts from this blog

IZYAN SANG PENDAR CAHAYA ( Edgar )

Hari Pengganti Mantenan