Senin yang Penuh Pelajaran Hidup
Senin yang Penuh Pelajaran Hidup
Senin, 18 Agustus kemarin, meski kondisi keuangan sudah menipis, saya tetap memaksakan diri untuk hadir dalam sebuah acara penting: takziah.
Rasanya tidak mungkin untuk tidak datang, karena yang berpulang adalah teman sekantor saya sendiri saat masih belum pensiu.
Seorang wanita penuh keceriaan, sosok tangguh, single parent yang selalu berusaha menutupi penderitaannya dengan senyum.
Suasana di Rumah Duka
Rumah almarhumah berada di Paiton View, tepat di seberang Rumah Makan C’BEZT Fried Chicken, Paiton. Saya tiba sekitar pukul dua siang. Yang menyambut kedatangan saya adalah anak laki-lakinya, Ivon, satu-satunya anak yang baru saja lulus dari Universitas Negeri Malang (UM), jurusan IT. Ia sempat menjalani PKL di POMI, tempat yang sama dengan ibunya bekerja.
Tak lama kemudian, sang nenek—ibu dari almarhumah—ikut keluar menemui. Beliau adalah pensiunan guru SD. Kehadirannya membuat percakapan yang awalnya agak kaku menjadi lebih cair, penuh sapaan yang menenangkan.
Kisah Perjuangan Sang Ibu
Dengan suara terbata-bata, Ivon mulai bercerita. Delapan bulan terakhir, ibunya berjuang melawan kanker ovarium. Namun, karena sifatnya yang sangat tertutup, hampir tidak ada teman sekantor yang tahu tentang penyakit tersebut. Selama ini beliau menanggung rasa sakit, kesedihan, dan suka citanya seorang diri, seolah tidak ingin merepotkan siapa pun.
Setelah operasi, almarhumah sempat kembali bekerja. Sayangnya, kantor tempatnya bertugas berada di lantai dua gedung yang hanya bisa dijangkau dengan tangga cukup tinggi. Padahal, kondisi pasca operasi seharusnya tidak boleh dibebani dengan aktivitas berat, apalagi naik turun tangga. Kondisi itu akhirnya membuatnya drop dan harus dirawat kembali di rumah sakit, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir di sana.
Pesan untuk Sang Anak
Sebelum berpamitan pulang, saya sempat memberikan pesan kepada Ivon. Saya katakan bahwa selain menekuni bidang IT yang ia geluti, penting juga untuk mengembangkan jiwa sosial, sesuatu yang telah diwariskan oleh almarhumah ibunya. Mendengar itu, Ivon tak kuasa menahan air mata. Ia merasa tersentuh karena ada orang yang peduli dan mau memberi dukungan meski hanya lewat kata-kata.
Sang nenek kemudian bercerita bahwa semasa hidupnya, almarhumah sering menyebut nama saya. Katanya, saya termasuk orang yang baik di matanya. Mendengar itu, hati saya terasa hangat. Saya bersyukur, meski dalam keterbatasan dan kondisi kesehatan saya sendiri, setidaknya saya masih bisa memberikan kesan baik bagi orang lain.
Doa dan Harapan
Akhirnya kami pamit. Ivon, nenek, dan beberapa kerabat ikut mengantar hingga depan rumah. Dalam hati, saya berdoa semoga almarhumah diberikan tempat terbaik di sisi Allah, diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan iman serta kesabaran. Aamiin.
