Silaturahmi Ke Pak Rochim - Ibu Rochim.
Silaturahmi Setelah Takziah
Begitu selesai dari acara takziah, kami langsung meluncur menuju POH, perumahan dinas lama tempat kami pernah tinggal sebelum pensiun.
Mas Dodik, sopirnya Pak Sidang, hanya tersenyum kecil saat melewati pos penjagaan.
Dari dalam mobil aku menyapa para satpam yang berjaga, baik di gerbang PLN maupun di gerbang POMI.
Alhamdulillah, mereka masih mengenaliku, jadi aku tidak perlu turun dari mobil
cukup melambaikan tangan sambil basa-basi sok akrab. Hehehe...
Sesampainya di Jalan Lombok 6, mobil kami berhenti.
Rumah terlihat sepi, tidak ada seorang pun yang keluar menyambut.
Untungnya, Mas Dodik hafal mobil-mobil yang biasa terparkir di sana, sementara aku sendiri jujur saja kurang bisa mengenali merk dan model mobil.
Entah kenapa memang tidak terlalu tertarik untuk mengingat detail begituan.
Kami mengetuk pintu cukup lama, bahkan istriku ikut membantu.
Setelah beberapa ketukan, barulah tuan rumah keluar. Rupanya mereka belum siap menerima tamu, jadi kami sempat menunggu sebentar sebelum akhirnya dipersilakan masuk.
Di dalam, kami bertemu dengan Bu Rochim dan putrinya yang kedua, Zahra.
Putrinya yang pertama, Firda, baru saja menikah, sehingga kini tinggal terpisah dari orang tuanya.
Obrolan mengalir ringan.
Bu Rochim bercerita bahwa keberangkatan haji kali ini sebenarnya penuh ketidaksiapan.
Saat pengumuman datang, beliau masih disibukkan dengan persiapan pernikahan putri sulungnya. Belum lagi informasi tentang jadwal keberangkatan dan pembagian kloter yang simpang siur, membuat hatinya sempat was-was.
Sebagai selingan, aku bertanya tentang rencana lama beliau membeli tanah di Sidoarjo.
Ternyata beliau merasa sangat bersyukur karena sempat selamat dari tipu daya seorang makelar.
Banyak orang yang akhirnya tertipu, bahkan sempat terdengar cerita bahwa makelar itu pernah dipukuli orang saat bersepeda karena kasus penggelapan uang.
Untunglah, Bu Rochim berhasil menjual tanah tersebut dengan harga yang cukup baik.
Akhirnya semua urusan selesai dengan baik
anaknya menikah lancar, dan keberangkatan haji pun dimudahkan.
Rezekinya memang luar biasa, sehingga bisa berangkat bersama suami dan berkumpul dengan kelompok hajinya.
Sebelum berpamitan, kami meminta doa agar kelak dimudahkan juga untuk bisa menyusul berangkat haji. Sambil tersenyum, Zahra ternyata diam-diam memotret kami tanpa sepengetahuan, lalu mengirimkannya kepada ayahnya. Hehehe...
Setelah itu, perjalanan silaturahmi berlanjut menuju rumah Pak Wawan dan Bu Wawan.
.jpeg)