Silaturahmi Penuh Kejutan dan Tawa di Rumah Pak Yoga & Bu Yoga
Sebelum menuju rumah Pak Yoga, kami sudah membekali diri dengan informasi dari Bu Iwan. Jadi, kami pun langsung 'njujug' (langsung menuju) tanpa tersesat.
Kebetulan yang sangat beruntung, tepat saat kami tiba di depan rumahnya, Pak Yoga sedang bersiap berangkat ke masjid.
Melihat kedatangan kami, dengan sigap dan ramah beliau mengurungkan niatnya dan langsung mengajak kami masuk.
Saat melangkah ke dalam, pemandangan pertama yang mencuri perhatian adalah ruang tamunya yang terlihat sangat lapang.
Rupanya, beliau memiliki tradisi unik untuk menjamu tamu dengan duduk bersila di atas karpet, tanpa kursi.
Sebagai tamu, kami tentu merasa sedikit sungkan.
Terlebih lagi, dengan kondisi fisik saya yang terbatas untuk duduk di lantai.
Begitu Pak Yoga mengambilkan sebuah kursi untuk saya, spontan saya berkomentar, "Lho, kok persis sama dengan kursinya Pak Wawan?"
Dengan senyum mengembang, Pak Yoga menjawab santai, "Ya, memang kami saudara, ya kursinya pun beli yang sama lah!" Seketika, pecahlah tawa kami semua.
Es kekinian pun kalah segar dengan candaannya!
Perjumpaan ini terasa sangat spesial.
Dalam pandangan saya, Pak Yoga sekarang tampak jauh berbeda dengan kesan dulu.
Beliau kini memancarkan kearifan, kesabaran, dan kebijakan yang luar biasa.
Perubahan positif seperti ini pasti membutuhkan proses panjang dan kesadaran hati yang dalam, sebuah transformasi yang sangat menginspirasi.
Obrolan kami pun semakin melebar dan akrab.
Ternyata, kami memiliki banyak kesamaan.
Selain sama-sama pernah bekerja di POMI, Pak Yoga juga adalah ekspatriat di pabrik Leces, tepatnya di Recovery Boiler (RB) 3.
Ketika disebutkan bahwa beliau masuk tahun 1991, sementara saya lebih dahulu di tahun 1988, spontan beliau memanggil saya, "Mas!" Panggilan itu membuat saya setengah kaget dan terharu.
Rasanya baru kemarin saya masih muda, kini sudah diposisikan sebagai yang lebih senior.
Ikatan keluarga antara Pak Wawan dan Pak Yoga terasa sangat erat. Hal ini karena Bu Yoga dan Bu Wawan adalah bersaudara. hehehe..
Selain itu, putri sulung Bu Yoga ternyata adalah teman sekolah SD dari Rani, putri saya. Dunia memang terasa kecil dan penuh dengan koneksi yang tak terduga.
Dan yang yang lebih membagongkan adalah, Mak Mujiono, Bu Wawan, Bu Yoga, Pak Iwan mereka semua asli Tulungagung, seperti Besan saya, orang tua Undra.😃
Sebelum berpamitan, Pak Yoga dengan khidmat memimpin doa.
saya pun juga otomatis mendokan. dalam doa, saya pun menyelipkan harapan agar putra-putra beliau senantiasa dimudahkan, dilancarkan rezekinya, dan sukses menggapai dunia dan akhirat.
Saat hendak pulang, Pak Yoga bertanya dengan nada main-main, "Apakah boleh main ke Kedopok (rumah saya di Probolinggo)?" Saya langsung menyahut dengan kalimat khas Gaya Ludrukan, "Waru Jinggo Lore Clarak!" (artinya: daerah di Probolinggo, sebelah utara Clarak) yang langsung saya lanjutkan dengan, "Monggo Pinarak!" (Silahkan, Anda dijamu!). Dia pun tertawa lepas dan dengan sangat baik hati mengantarkan kami sampai ke mobil.
Alhamdulillah, perjalanan pulang kami lancar tanpa hambatan hingga tiba di Kedopok, Probolinggo.
Kehangatan hari itu semakin sempurna karena ternyata di rumah masih menunggu Rani dan Undra.
Sebuah penutup perjalanan silaturahmi yang sangat lengkap dan penuh berkah.
