DARI GRESIK KE SIMO. JUMAT, 5 SEPTEMBER 2025 (3)
Dari Gresik, aku kasih ancar-ancar ke Undra:
“Turun di Tol Banyu Urip — itu akses terdekat ke Simo Sidomulyo.”
Petunjuknya jelas. Tapi... kenangan kadang lebih rumit dari GPS.
🏟️ LAPANGAN SIMO MULYO MENGHILANG
DITELAN TOKO DAN WAKTU
Sesampainya di daerah Simo, aku langsung bingung.
Lapangan sepak bola Simo Mulyo? Hilang.
Bukan benar-benar hilang — tapi tertutupi pertokoan di depannya. Jadi kesannya... kok beda banget?
Di seberang lapangan dulu — tempat penyembelihan babi — juga sudah lenyap tanpa bekas.
Semua berubah. Berganti fungsi. Tak ada yang sama lagi.
Waktu memang tak pernah menunggu siapa pun.
Waktu mau belok ke Simo Mulyo, aku ragu:
“Boleh enggak jalan ini dua arah?”
Karena ragu — kami malah nyebrang sungai, belok ke Simo Kalangan Baru — jalan lama menuju pabrik korek.
Salah arah! Hehehe...
Akhirnya, Undra harus mundurin mobil — putar balik — baru bisa masuk ke Simo Mulyo.
Perjalanan kecil yang bikin ketawa — dan jadi cerita lucu buat nanti dikenang.
🛒 MAMPIL KE ALFA MIDI
BELI SANDAL & AIR MINERAL, SEKALIGUS NGINGETIN JALAN
Dekat rumah Soesanto, aku ragu lagi.
Akhirnya, kami mampir ke Alfamidi —
👉 Undra beli sandal jepit (buat jaga-jaga kalau jalan kaki)
👉 Nyonya beli air mineral (buat jaga-jaga kalau kehausan)
👉 Aku? Beli kenangan... eh, maksudnya ngumpulin ingatan lama.
Dengan mengingat masa-masa naik sepeda angin dulu,
aku pandu Undra lewat Simo Magerejo Timur, lalu belok ke Simo Sidomulyo VIII.
Tapi... jalannya sempit banget —
hanya bisa dilalui motor!
Mau tak mau aku turun dan jalan kaki.
Jauh? Lumayan.
Tapi demi ketemu teman lama
kaki ringan, hati lebih ringan lagi.
Sampai di depan rumah, Nyonya tanya alamat ke seorang wanita.
Dan... plot twist!
Wanita itu ternyata... isteri Soesanto sendiri!
Yang lucu? Jawabannya kayak tetangga biasa:
“Oh, itu rumahnya... di situ sambil menunjuk sebelah rumah.”
Hihihi... kayak bukan rumahnya sendiri!
Akhirnya, ketemu juga!
Obrolan kami panjang, seru, dan penuh tawa —
dari masa lalu, pekerjaan, sampai anak-anak.
Soesanto kini bekerja di bagian Sipil Angkatan Laut — Laborat Instrumentasi.
Putranya sedang ambil S2,
putrinya kuliah Antropologi di Unair.
Sebelum pamit, kami foto bareng dulu —
untuk mengabadikan momen langka ini.
30 tahun lebih tak bertemu dan hari ini, waktu seolah berhenti sejenak untuk kami.
Perjalanan ini mengajarkan satu hal:
Tempat bisa berubah, tapi ikatan tak pernah pudar.
Jalan bisa buntu, tapi hati selalu tahu arah pulang.
Dan meski GPS gagal, kenangan masa kecil tetap jadi peta terbaik.



.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)