Minggu, 31 Agustus – Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

 

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Minggu, 31 Agustus – Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Minggu pagi itu langit cerah, udara masih segar dengan embun yang belum sepenuhnya menguap.
 Almas dan Prima tiba-tiba muncul dengan usulan spontan: “Ayo, kita ke rumah Mbak Nem!”

 

Aku terdiam sejenak. Mbak Nem? Ya, tentu aku ingat. Tapi... di mana rumahnya persisnya? Terakhir kali ke sana mungkin setahun tahun lalu.
Lokasinya agak terpencil, di ujung kota, dekat jalan tol.
Untungnya, di zaman ini, Google Maps jadi penyelamat nomor satu.
Dengan cepat kumasukkan kata “Muneng” dan alamat perkiraan.
Setelah beberapa kali salah belok dan hampir nyasar ke area proyek, akhirnya titik merah itu berhenti persis di sebelah bawah... Loket Pembayaran Tol Probolinggo Barat.

 

Rumah Mbak Nem memang berada tepat di sisi barat dan dibawah gerbang tol  bukan di dalam area tol, tapi di gang kecil yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon trembesi dan warung-warung kecil penjual gorengan.
Rumahnya sederhana, rumah khas desa

 

Kami datang tanpa pemberitahuan. Dan ketika pintu terbuka, wajah Mbak Nem langsung berubah dari bingung menjadi terkejut, lalu melebar dalam senyum lebar yang hangat. “Wah, Bapak... kok tiba-tiba?!” serunya sambil melihatku dan menepuk-nepuk bahu Almas dan menariknya masuk. “Maaf rumahnya berantakan!”

 

Tapi ternyata, kejutan itu bukan hanya untuk Mbak Nem  tapi juga untuk kami. Begitu duduk di ruang tamu yang penuh bantal batik, satu per satu anggota keluarga mulai muncul dari dalam rumah. Adik Mbak Nem datang dengan istrinya, terlihat wajahnya lebih tua dari usia sebenarnya. membawa nampan penuh klepon dan es teh manis. Tak lama kemudian, muncul pula keponakannya  yang sering menemani Mbak Nem kerumah yang ternyata pemilik warung kecil di depan rumah, yang selama ini kukira cuma warung biasa. Ternyata, itu usaha keluarga!

 

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

Berkunjung Dadakan di Rumah Mbak Nem

“Namanya Warung Mbak Nem Jr.,” ujar sang keponakan sambil tertawa malu. ”


Aku menatap sekeliling: wajah-wajah yang dulu sering kulihat, kini sudah berubah  ada yang tambah keriput, ada yang tambah gemuk, ada yang rambutnya mulai ubanan. Tapi kehangatan itu masih sama. Bahkan lebih.

 

Di akhir kunjungan, kami semua berfoto di depan warung keponakannya  dengan latar belakang gerbang tol yang ramai, tapi tak terasa bising lagi. 

 

Dan saat mobil mulai melaju meninggalkan rumah itu, aku menoleh ke belakang, melihat Mbak Nem masih melambai-lambai di depan pagar. Di hatiku, ada satu kalimat yang terus bergema:

 

“Kadang, kebahagiaan datang bukan dari rencana yang sempurna... tapi dari kejutan yang tulus.”


Popular posts from this blog

IZYAN SANG PENDAR CAHAYA ( Edgar )

Hari Pengganti Mantenan