Minggu, 31 Agustus – Berkunjung Ke Banjar Sawah

 

Berkunjung Ke Banjar Sawah

Berkunjung Ke Banjar Sawah

Berkunjung Ke Banjar Sawah

🌾 MINGGU, 31 AGUSTUS 

 PULANG KE BANJAR SAWAH: MENYENTUH AKAR, MENGENANG AWAL


Setelah berkunjung ke rumah Mbak Nem, kami tak buru-buru pulang.  

Ada satu tempat yang harus dikunjungi — Banjar Sawah, Leces.  

Bukan sekadar desa. Ini rumah pertamaku saat pertama kali bekerja di pabrik kertas Leces.  

Tempat di mana mimpi-mimpi muda mulai dibentuk — dan keringat pertama mulai mengalir.


 🚗 JALAN BARU, KENANGAN LAMA

Kali ini, kami sengaja memilih rute berbeda:  

Naik dari Tol Probolinggo Barat, turun di Probolinggo Timur.  

Lebih cepat. Lebih praktis. Dan — jujur — lebih nyaman.  

Dulu? Kami lewat jalur “EMI” — Embong Miring.  

Nama yang lucu, tapi punya sejarah kelam: jalanan berliku, tanah miring… dan dulu, katanya, jadi “basis” yang nggak resmi. 😅


Ironisnya, Perumahan Leces Indah — tempat kami dulu tinggal — justru dibangun di dekat situ.  

Katanya sih, karena rencananya akan ada Pabrik Soda di sana.  

Tapi pabriknya? Batal dibangun.  

Alhasil, perumahan itu jadi terpencil — jauh dari pabrik, jauh dari keramaian.  

Tanahnya labil. Kalau PDAM mati? Siap-siap antre air pakai ember.  

“Numpuk-numpuk… hehehe.”


 🏡 BERTEMU PAK ARIF — LEGENDA YANG MENARIK DIRI

Sampai di Leces Indah, Blok C3 No. 17 — rumah Pak Arif.  

Dekat dengan Erik dan Priambodo — teman lama yang masih setia di sana.


Pak Arif? Masih di rumah. Tapi… butuh kesabaran ekstra.  

Aku menunggu lama — sampai akhirnya ku “paksa” dengan panggilan-panggilan riuh. 😄


Ternyata, post power syndrome-nya masih sangat kental.  

Orangnya jenius — tapi sayang, kurang percaya pada orang lain.  

Setelah pensiun, ia cenderung menarik diri. Dunia luar terasa asing.


Untungnya, anaknya — Udin — sangat paham kondisi ayahnya.  

Udin anak yang cerdas, kini bergelut di dunia animasi — bidang yang penuh warna dan imajinasi.  

Kakaknya, Wawan, sudah menikah dan tinggal di Mojokerto.  

Adiknya, Inas — teman sekelas Rachman (anakku) di SD Al Irsyad Kraksaan — kini di Jember, sedang menyelesaikan skripsi.


 ❤️ ALHAMDULILLAH — OBROLAN YANG MEMBAWA SENYUMAN

Ngobrol dengannya? Awalnya berat. Tapi pelan-pelan, suasana cair.  

Aku ajak ngalor-ngidul — dari masa lalu, pekerjaan, sampai cucu-cucu yang lucu.  

Dan tanda keberhasilan?  

👉 Dia mau foto bareng.  

👉 Dan saat aku pamit pulang, dia nganterin sampai depan pagar rumah.


Itu lebih dari cukup.  

Lebih dari sekadar kunjungan. Ini rekonsiliasi dengan masa lalu.  

Ini pelukan diam-diam dari waktu yang pernah kita tinggalkan.

Alhamdulillah.


🌾 Banjar Sawah bukan cuma tanah. Ia adalah memori.  

Dan pulang — sekecil apa pun — selalu punya kekuatan untuk menyembuhkan.



Popular posts from this blog

IZYAN SANG PENDAR CAHAYA ( Edgar )

Hari Pengganti Mantenan