PETEMON, BUKAN CUMA KUNJUNGAN. JUMAT, 5 SEPTEMBER 2025 (4)

 

PETEMON

PETEMON

 🌿 PETEMON
BUKAN CUMA KUNJUNGAN, TAPI PULANG KE PELUKAN KELUARGA

Dari Simo, kami melanjutkan perjalanan ke Petemon — Jl. Petemon III No. 67.  

Bukan ke sembarang rumah — tapi ke rumah Pakde Yanto, suami dari Almarhumah Budhe Yati, kakakku tercinta.

Tempat ini bukan cuma alamat.  

Ini rumah kenangan, tempat tawa masa kecil bergema, dan kini — tempat generasi baru tumbuh dalam pelukan cinta keluarga.

 👶 FARAH & NABILA
DUA PUTRI PAKDE YANTO, DUA IBU HEBAT YANG TERUS MENULIS CERITA

Saat kami tiba, Farah 
putri pertama Pakde Yanto 
sedang menggendong bayinya yang masih merah.  

Lembut. Tenang. Penuh kasih.  

Melihatnya, aku teringat Budhe Yati, pasti beliau tersenyum dari surga.

Farah atau Novi Putri Faranti, punya lima orang anak.  

Ya, LIMA! Dan semua namanya indah, penuh doa dan makna:

1. Reihan Putra Deva  

2. Aletta Yura Azzifani  

3. Aruna Yura Azzania  

4. Aneira Yura Azzalia  

5. Alodie Yura Aizzani

> “Nama-nama ini pilihan Bapak dan Ibu — biar doanya selalu menyertai mereka,” kata Farah sambil tersenyum.

Lalu ada Nabila, putri kedua Pakde Yanto, yang menikah dengan Aditya Ahmad.  

Dia punya satu putri: Nabila Ayu Arianti yang lucu, aktif, dan suka ketawa.  

Dan kabar gembira: Nabila sedang hamil anak kedua!  

> “Namanya mau Naura — biar hidupnya selalu bercahaya,” bisiknya.

 💬 NGOPI, NGOBROL, DAN MERINDUKAN BUDHE YATI

Kami duduk di ruang tamu, sekaligus ruang keluarga.
Karena sebagaimana rumah di kota-kota besar, sempit dan berdesak-desakan.
Ngopi, makan kue, dan ngobrol panjang lebar.  

Dari cerita anak-anak, sekolah, sampai rencana masa depan.  

Pakde Yanto duduk di pojok, setelah membuatkan aku segelas Kopi Jahe, enak sekali..hehehe..  
Pakde agak Pendiam.
Belai adalah ahlinya AC Hotel.
Karena saking lamanya kerja di hotel bagian AC..

Tapi di tengah tawa itu — ada rasa rindu yang tak terucap.  

Kami semua merindukan Budhe Yati.  

Ibu yang hangat. Kakak yang penyayang.
Perempuan kuat yang meninggalkan jejak cinta yang tak pernah pudar.

“Beliau pasti bangga lihat cucu-cucunya sebanyak ini,” kata Nyonya pelan.  

Kami semua mengangguk, mata berkaca-kaca, tapi tetap tersenyum.

 📸 LUPA FOTO? YA SUDAH 
 KARENA KITA MASIH SERING BERTEMU

Sayangnya... kami lupa berfoto.  

Tapi anehnya — nggak ada yang protes.  

Mungkin karena kita sering bertemu, jadi merasa:  

“Ah, nanti aja kalau ketemu lagi...”

Padahal, setiap pertemuan itu berharga.  

Setiap senyum cucu, setiap tawa Pakde, setiap cerita Farah, itu semua momen langka yang harus diabadikan.

Jadi catatan buat kita semua: lain kali — FOTO DULU, BARU NGOBROL!

 🏘️ PETEMON BERUBAH 
SUNGAI DITUTUP, WARUNG TUTUP, TAPI KENANGAN TETAP HIDUP


Dulu, jalannya sempit. Di depan rumah ada warung keluarga — tempat ngumpul sore, jualan kopi, gorengan, dan cerita.  

Warung itu bukan cuma tempat jualan — tapi jantung sosial keluarga besar kami.


Sekarang?  

Jalannya sudah diperlebar — sungai ditutup pakai box culvert, jadi lebih luas dan ramai.  

Tapi... warung hiburan Pakde Yanto terpaksa tutup.


“Dulu ramai orang ngobrol di sini —
sekarang mobil aja susah parkir,” kata Pakde sambil tertawa kecil.  

 Tapi aku tahu — di balik tawanya, ada rindu pada suasana lama.

Perubahan memang tak terhindarkan.  

Tapi cinta keluarga? Itu abadi 
 tak tergerus waktu, tak tergusur pembangunan.


 ❤️ KELUARGA ADALAH TEMPAT DI MANA KITA SELALU PULANG —
MESKI TANPA FOTO

Kami pamit dengan hati penuh —  

bukan cuma karena kue dan kopinya enak,  

tapi karena kita merasa pulang — ke tempat di mana cinta tak pernah berhenti mengalir.


Alhamdulillah —  

meski Budhe Yati tak lagi di sini,  

cucu-cucunya tumbuh sehat,  

Pakde Yanto masih kuat bercanda,  

dan kita — masih diberi kesempatan untuk saling menjaga.

Foto memang lupa, tapi kenangan? Tertanam dalam.  

Dan pertemuan berikutnya?
Pasti akan lebih hangat lagi.

000ooo000



Popular posts from this blog

Hari Pengganti Mantenan