Novandi, si pelukis dari Jakarta
"Kangen," katanya, tapi aku tahu ada udang di balik bakwan.
Novandi, si pelukis dari Jakarta itu, tiba-tiba muncul di Probolinggo dan mampir ke rumahku.
"Sekalian ngawasin renovasi rumah anak," lanjutnya sambil terkekeh.
"Mandor gratisan, terpercaya pula. Lha wong bapaknya!"
Jadi, begitulah ceritanya.
Novandi, yang seharusnya menikmati hiruk pikuk Jakarta, kini berada di Probolinggo,
mengawasi tukang bangunan.
Anaknya, yang mengikuti suaminya kembali ke kota ini, memang sudah lama menetap di Jakarta.
Namun, takdir berkata lain. Suami anaknya, anak semata wayang, terpaksa kembali ke Probolinggo
setelah Orang tuanya meninggal.
Rumah mereka, yang terletak di belakang Museum Kota Probolinggo,
sedang direnovasi, dan Novandi-lah yang ditunjuk sebagai pengawas.
Di sela-sela kesibukannya, Novandi menyempatkan diri mengobrol denganku.
Seperti biasa, obrolan kami ngalor ngidul, dari hal-hal ringan hingga perbincangan serius
tentang dunia seni.
Ada satu hal yang membuatnya heran: kevakuman seniman Probolinggo.
Padahal, ide-ide kreatifnya seolah tak ada habisnya.
Ia bahkan bersemangat menceritakan visinya tentang sebuah monumen,
tembok bercerita yang mengisahkan perjalanan Kota Probolinggo dari masa lampau hingga kini.
Kemudian, topik beralih ke selera kolektor muda dan dilema seniman antara idealisme dan komersialisme.
Novandi mengamati bahwa dominasi kolektor muda (milenial & Gen-Z)
di pasar seni modern dan futuristik didorong oleh relevansi identitas digital mereka,
motif investasi modern, aksesibilitas online, dan estetika "post-internet".
Bagi mereka, seni adalah refleksi diri, aset investasi, dan cara memahami dunia yang dinamis.
Namun, Novandi juga menyadari bahwa seniman sering dihadapkan pada pilihan sulit
antara idealisme dan komersialisme.
Seniman idealis berjuang dengan ekspresi murni tetapi kesulitan finansial,
sementara seniman komersial mengikuti tren tetapi kehilangan identitas.
Ia percaya bahwa solusinya terletak pada strategi hibrid:
seniman idealis dapat mengemas konsep inti dalam format yang lebih mudah diakses,
dan seniman komersial dapat menyisipkan jejak personal yang khas dalam karya mereka.
Seperti Andy Warhol dan Keith Haring, kunci keberhasilan adalah memadukan
integritas artistik dengan kecerdasan strategi.
Seniman terhebat, menurut Novandi, adalah mereka yang menemukan "jalan tengah"
yang cerdas antara idealisme dan komersialisme, berstrategi tanpa mengorbankan prinsip.
Dengan begitu, seniman dapat menjangkau pasar yang lebih luas
dan menjadi relevan bagi kolektor muda sambil tetap mempertahankan identitas artistik mereka.
Aku tertawa mendengar celotehan Novandi.
Di balik sosoknya yang santai, tersimpan semangat seorang seniman yang tak pernah padam.
Mungkinkah kehadirannya di Probolinggo ini akan menjadi katalis bagi kebangkitan dunia seni lokal?
Entahlah. Yang jelas, obrolan dengannya selalu menginspirasi.

.jpeg)