Ke Rumah Ana
Melanjutkan cerita Takziah atas meninggalnya Masduki Guru. yaitu Pada Rabu Kliwon, 15 Oktober 2025, Kami mampir dulu ke Rumah Ana karena belum sempat kesana saat dia menikahkan Putranya..
Setelah selesai , kami pun bersiap untuk lanjut ke tujuan berikutnya: rumah Ana.
"Ke Rumah Ana"
Antara Truk Lambat dan Keputusan Bijak lewat Tol.
Sebelumnya kita harus mengambil makanan yang telah kita pesan sehari sebelumnya, Tepatnya di Jalan Juanda no 65.
Lokasinya tak jauh dari Rumah Pak Budi Shari
Lokasinya tak jauh dari Rumah Pak Budi Shari
Setelah selesai , kami pun bersiap untuk lanjut ke tujuan berikutnya: rumah Ana.
Ana? Ya, teman lama kami sejak masa STM dulu! Dulu.
Rumahnya di daerah Wonorejo, tapi sekarang ia sudah pindah ke Bangil, mengikuti suaminya (yang sayangnya telah berpulang beberapa tahun lalu).
Kini, Ana tinggal di Jalan Sungkono—atau kalau menurut warga sekitar lebih dikenal sebagai Jalan Pepaya—nomor 360, RT 01/RW 01, Pogar, Bangil.
Tepatnya di gang Makam Pogar Barat.
Rumahnya di daerah Wonorejo, tapi sekarang ia sudah pindah ke Bangil, mengikuti suaminya (yang sayangnya telah berpulang beberapa tahun lalu).
Kini, Ana tinggal di Jalan Sungkono—atau kalau menurut warga sekitar lebih dikenal sebagai Jalan Pepaya—nomor 360, RT 01/RW 01, Pogar, Bangil.
Tepatnya di gang Makam Pogar Barat.
Awalnya, saya sengaja memilih rute bawah, bukan lewat tol.
Pikir saya, rumah Ana kan dekat kota Bangil—pasti cepat sampai.
Tapi… alam punya rencana lain.
Pikir saya, rumah Ana kan dekat kota Bangil—pasti cepat sampai.
Tapi… alam punya rencana lain.
Perjalanan ternyata jadi ujian kesabaran.
Bukan cuma banyak lampu merah yang seolah kompak menyala merah saat kami datang, tapi juga—dan ini yang paling bikin geleng-geleng—kami harus berada di belakang "Sikomo".
Ya, truk besar itu berjalan pelan banget, seperti sedang menikmati pemandangan. Lebih “menyebalkan” lagi, posisinya nanggung: nggak nempel kiri, nggak nempel kanan.
Mau nyelip kiri susah, kanan apalagi.
Rasanya seperti terjebak dalam adegan film *slow motion* yang nggak ada tombol skip-nya.
Bukan cuma banyak lampu merah yang seolah kompak menyala merah saat kami datang, tapi juga—dan ini yang paling bikin geleng-geleng—kami harus berada di belakang "Sikomo".
Ya, truk besar itu berjalan pelan banget, seperti sedang menikmati pemandangan. Lebih “menyebalkan” lagi, posisinya nanggung: nggak nempel kiri, nggak nempel kanan.
Mau nyelip kiri susah, kanan apalagi.
Rasanya seperti terjebak dalam adegan film *slow motion* yang nggak ada tombol skip-nya.
Beruntung, Pak Wid—si jago navigasi—langsung menawarkan alternatif:
“Mending lewat tol aja, Pak?”
“Mending lewat tol aja, Pak?”
Tanpa pikir panjang, saya langsung klik-klik setuju.
Hehehe.
Hehehe.
Dan ternyata… pilihan Pak Wid spot on! Tak lama setelah masuk tol, kami sudah tiba di rumah Ana.
Di sana, Ana menyambut dengan hangat.
Ia memperkenalkan menantunya—seorang perempuan yang ramah dan murah senyum.
Kami sempat mengobrol sebentar, menanyakan kabar, dan tak lupa menyampaikan selamat atas pernikahan anaknya.
Suasana haru tapi hangat, apalagi mengingat kami pernah datang ke sini dulu untuk takziah saat suaminya berpulang.
Ia memperkenalkan menantunya—seorang perempuan yang ramah dan murah senyum.
Kami sempat mengobrol sebentar, menanyakan kabar, dan tak lupa menyampaikan selamat atas pernikahan anaknya.
Suasana haru tapi hangat, apalagi mengingat kami pernah datang ke sini dulu untuk takziah saat suaminya berpulang.
Setelah cukup ngobrol dan melepas rindu sejenak, kami pun pamit.
Masih ada agenda penting: menjemput Pakde Kaseno, lalu bersama-sama berangkat ke Jombang untuk takziah.
Masih ada agenda penting: menjemput Pakde Kaseno, lalu bersama-sama berangkat ke Jombang untuk takziah.
Perjalanan hari itu mengingatkan saya: kadang, jalan tercepat bukan yang terlihat paling dekat di peta—tapi yang paling bijak dipilih.
Dan tentu saja, selalu ada cerita menarik di balik setiap tikungan… bahkan di belakang truk Sikomo yang pelan tapi pasti. 😄
Dan tentu saja, selalu ada cerita menarik di balik setiap tikungan… bahkan di belakang truk Sikomo yang pelan tapi pasti. 😄


