Mampir Makan di Cukir
Mampir Makan di Cukir
Sate, Rawon, dan Misteri Pakde Yanto yang Anti-Daging
Sampai di Jombang? Sudah lewat jam 12 siang—perut pun langsung nyala seperti lampu kuning di lampu lalu lintas. Tanpa basa-basi, kami langsung mampir ke Warung Sate H. Faqih 1 di Cukir.
Lokasinya gampang banget ditemukan: lewat Pabrik Gula Tjoekir, belok ke arah Jl. Mojowarno, lalu sekitar 100 meter dari pertigaan—voilà! Warung legendaris itu sudah menyambut dengan aroma sate yang bikin ngiler dari kejauhan.
Daerah ini memang strategis banget. Dekat Pondok Pesantren Tebu Ireng, juga tak jauh dari Makam Gus Dur—jadi selain kenyang, hati pun rasanya adem.
Kami langsung gegas pesan: sate, rawon, plus minuman hangat—ada teh panas taar (yang pahitnya pas!), teh manis, sampai jeruk panas buat yang pengin vitamin C sekaligus hangat. Sayang, gule-nya belum mateng, jadi nggak ikut dalam daftar pesanan hari ini.
Tapi… ada satu teka-teki yang bikin kami geleng-geleng: Pakde Yanto.
Dia nggak suka daging.
Di tengah warung sate dan rawon—dua ikon kuliner berbahan daging—kami bingung setengah mati.
Akhirnya, dengan kreativitas ala darurat lapar, kami putuskan: nasi tahu plus kuah rawon! 😅
Ya, kuahnya doang—tanpa daging, tapi tetap sedap. Hihihi…
Pakde Yanto pun makan dengan tenang, seolah jadi pahlawan vegetarian di tengah medan perang kuliner Jawa Timur.
Dan seperti biasa, makanan terasa luar biasa enak—entah karena memang warungnya juara, atau karena kami semua sedang kelaparan berat. Kwkwkw!
Setelah perut terisi dan jiwa kembali stabil, kami tak langsung ke rumah duka.
Ada satu pit stop wajib dulu: mampir ke rumah Slamet, yang kebetulan lokasinya berdekatan.
Sebab di Jombang, takziah itu bukan cuma soal datang—tapi juga soal silaturahmi, makan bareng, dan saling menguatkan, satu langkah demi satu langkah. 💛

.jpeg)





