Mengenang Masduki Guru




 Mengenang Masduki Guru:
Sebuah Teladan Kesederhanaan dan Ketulusan

Oleh: Keluarga Besar


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un" 

"Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali".


JOMBANG – Kabar duka itu datang di pagi buta, menyapa dengan getirnya. Pada Rabu Kliwon, 15 Oktober 2025, pukul setengah lima pagi, sang fajar menyambut pulangnya seorang hamba yang taat: Masduki Guru. Kabar kepergiannya kami terima dari Isteri Slamet di Jombang, membawa duka yang dalam bagi seluruh keluarga besar.


Bagi kami, Masduki bukan hanya sebuah nama. Ia adalah seorang saudara, seorang ayah, seorang guru, dan bagian dari akar pohon keluarga kami yang kokoh.


Sebagai Saudara: Sang Anak Kedua yang Menjadi Tiang

Masduki hadir di dunia sebagai anak kedua dari empat bersaudara, semuanya laki-laki. Dalam susunan posisinya, ia bagai tiang tengah yang ikut menopang. Sang kakak, Toat, memilih jalan ketelitian sebagai seorang penjahit. Sementara kedua adiknya mengukir prestasinya masing-masing; satu sebagai guru SMK Jurusan Sipil, dan sang bungsu yang mengabdi sebagai anggota Polisi di Makassar. Dalam dinamika empat saudara ini, Masduki menemukan panggilan jiwanya di dunia pendidikan.


Sebagai Ayah: Kebanggaan pada Generasi Penerus

Dari ikatan pernikahannya, Masduki dikaruniai dua orang anak, putra dan putri—sebuah kebahagiaan yang sempurna. Sebuah kebanggaan tersendiri baginya menyaksikan sang putra mengikuti jejak sang paman dengan mengabdikan diri di kepolisian. Sementara sang putri, telah menyelesaikan pendidikannya dengan gemilang. Mereka adalah warisan terindah yang ditinggalkannya, cerminan dari didikan dan kasih sayangnya.


Sebagai Bagian dari Sebuah Pohon Keluarga yang Besar

Untuk memahami dari mana Masduki berakar, kita harus mengenang Mbah Matningso dan Mbah Sumarmah, kedua orang tua dari Mbah Katoyah (ibunda penulis). Ikatan kekerabatan ini semakin erat karena Mbah Matningso memiliki seorang adik, yang tidak lain adalah Kakek dan Nenek dari ibunda Masduki. Darahlah yang mengikat, tetapi rasa saling menjaga dan menghormati yang menjadikan ikatan ini begitu berarti sepanjang hayat.


Selamat Jalan, Masduki Guru

Kepergianmu di sebuah Rabu Kliwon di pagi yang sunyi, meninggalkan ruang hening yang sulit terisi. Namun, kami percaya, setiap doa yang dipanjatkan, setiap kebaikan yang kau tanam pada murid-muridmu, dan setiap senyum tulus yang kau berikan, akan menjadi bekal terbaik untuk perjalananmu.


Terima kasih untuk semua teladan. Damaimu adalah damai kami. Meski duka ini menyisakan lara, namun kami lega mengetahui bahwa engkau telah beristirahat dari segala lelah.


Selamat jalan, Masduki Guru. Perjalananmu telah selesai dengan baik. Engkau akan selalu dikenang.


_Keluarga besar mengucapkan terima kasih atas segala bentuk belasungkawa dan doa yang disampaikan. Semoga Allah SWT. melimpahkan tempat yang mulia di sisi-Nya untuk almarhum dan memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan._

Popular posts from this blog

IZYAN SANG PENDAR CAHAYA ( Edgar )

Hari Pengganti Mantenan