Menyusuri Jejak Persahabatan di Malang
Menyusuri Jejak Persahabatan di Malang
Minggu, 5 Oktober 2025 – Malang, Jawa Timur (Bagian 2)
Setelah perjalanan pagi yang lancar, kami tiba tepat pukul 09.45 di kosan Rachman di Jalan Bunga Merak 2 No. 11—on time, tanpa drama! Rumah kos itu mudah dikenali: catnya hijau cerah, dan di depannya beroperasi usaha laundry yang selalu ramai. Rachman pun langsung siap, dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Ichwan, sahabat lama yang hubungannya terjalin dalam keadaan tak terduga.
Ceritanya dimulai sejak Agustus 2016, saat kami sama-sama dirawat di RS Darmo—aku karena opname, beliau karena demam berdarah. Di tengah kelelahan, keluarganya kesulitan membuka bungkus obat Tiongkok Fu Fang E Jiao Jiang. Tanpa pikir panjang, istriku mengeluarkan gunting dari tas ajaibnya—yang ternyata selalu berisi segala kebutuhan darurat: gunting, plester, potongan kuku, dan lainnya, layaknya tas Doraemon! Disamping itu juga, Istriku membawakan pisang sebagai simbol doa kesembuhan. Dari momen kecil itulah, persahabatan kami tumbuh hingga hari ini.
Pak Ichwan ternyata sosok yang ulet luar biasa. Ia punya tiga rumah: satu di Surabaya, satu di Junrejo, dan satu lagi di Sengkaling—semuanya dibangun sendiri kecuali yang dari developer, dari tembok, kusen, hingga atap. Hanya sedikit bagian yang dibantu tukang. Bercanda, kami bilang: “Mungkin dia gak punya udel, kayak kuda—jadi kuat tenan!”
Kami berkunjung ke rumahnya di Malang, Taman Embong Anyar 1 G-2, lewat Jalan Margo Basuki. Namun, daerah ini cukup membingungkan—penomoran dan penamaan jalan tidak jelas, sampai kami kelewat dua kali! Jalannya sempit, minim ruang parkir, membuat mobil harus mutar-mutar dulu sebelum akhirnya menemukan rumah yang dicari.
Rumah itu masih dalam proses renovasi, dan Undra (mantuku) langsung berbinar-binar. Ia sedang membangun rumah sendiri, jadi setiap detail—dari susunan bata hingga desain loteng—menjadi bahan observasi penuh semangat! Sementara itu, Pak Ichwan dengan hangat menyuguhkan ayam goreng buat aku, tapi karena belum waktunya makan siang bagiku, terpaksa kubungkus sebagai bekal—hehehe.
Kami ditemui oleh Pak Ichwan dan Istri (Tante Lily) dengan ke dua putranya (Putra dan Putri, yang pertama sudah beda rumah): Pak Ichwan Punya 3 Putra, dua putra dan satu putri. Anak pertama sudah menikah tahun lalu, yang kedua kuliah semester 7, dan yang bungsu masih semester 3 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)—semuanya cerdas dan ramah.
Sebelum pulang, kami sempat naik ke loteng, kecuali aku..heheh, mengintip desain rumah, dan menghitung kamar mandi (ada dua di lantai bawah; mungkin satu lagi di atas, tapi tak sempat kuperiksa). Beberapa foto pun diabadikan sebagai kenang-kenangan—bukan hanya dokumentasi bangunan, tapi juga bukti hangatnya silaturahmi yang lahir dari kebetulan, tumbuh dalam keikhlasan.
Hari ini mengingatkan kami: keluarga tak selalu yang dilahirkan dari darah—kadang, sahabat yang datang di saat tak terduga justru jadi bagian tak terpisahkan dari cerita hidup kita.
ooo000ooo

.jpeg)
.jpeg)





