Perjalanan Liburan Keluarga (4) Silaturahmi Penuh Hikmah di Gang Klojen, Malang

Minggu, 5 Oktober 2025 – Rumah Eyang Satiman, Klojen
Pukul dua siang lebih, kami akhirnya tiba di Klojen, kawasan bersejarah di jantung Kota Malang, untuk silaturahmi ke rumah Eyang Sat (Satiman). Lokasinya unik: masuk gang kecil di antara Kedai Salim (Pangsit Mie) dan M-Suite (Home Stay), tepat di Jalan Aris Munandar. Meski strategis—hanya selangkah dari Alun-Alun Kota Malang, Gajah Mada Plaza, dan Ramayana Malang—gang ini begitu sempit hingga hanya bisa dilalui jalan kaki. Motor pun harus dituntun, ciri khas permukiman lama yang penuh kenangan.
Aku yang sedang memakai kruk, begitu melihat jalan sepi, langsung nekat menyeberang—dan sontak disambut teriakan riuh dari keluarga di belakang: “Hati-hati!” Hehehe…(padahal ngga begitu..kwkwkw) Maafkan kecerobohanku!
Sesampainya di depan rumah, aku mengucap salam. Pintu dibuka oleh Eyang Mamik—wanita cantik yang usianya kini 80 tahun, tapi wajahnya masih menyiratkan keanggunan masa muda. Konon, beliau dulu primadona desa di Gresik. Ia menikah dengan Eyang Sat (kini 91 tahun) saat masih berusia 17 tahun—selisih usia 11 tahun yang justru menjadi fondasi cinta yang langgeng selama puluhan tahun.
Kedatangan kami membuat mereka terkejut sekaligus bahagia. Sayang, Eyang Sat sedang tak bisa berdiri—baru saja jatuh karena penyakit tuanya. Eyang Mamik pun ikut kesakitan; pinggangnya harus dibalut karena berusaha menolong suaminya saat terjatuh. Di tengah suasana haru, hadir pula Mas Yayok yang pendiam namun penuh wawasan, serta Mas Antok dan Mbak Susi yang sibuk menyambut dengan teh hangat dan senyum tulus, ditemani dua putra mereka.
Karena ruang tamu tak muat menampung seluruh rombongan (Besan dan keluarga besar menunggu di luar), aku meminta izin ke belakang—untuk salat dan ke kamar mandi. Usai salat, aku justru larut dalam obrolan mendalam bersama Mas Yayok, lulusan Fisika ITB. Kami membahas hal-hal luar biasa: hidrogen hitam, frekuensi alam semesta, bahkan hubungan sains dengan konsep malaikat—percakapan langka yang membuat waktu terasa berhenti.
Sambil tersenyum, aku juga mendengar cerita lucu: putra kedua Mas Antok sedang jadi “joki skripsi”—bukan untuk orang lain, tapi membantu temannya menyelesaikan tugas akhir. Ternyata, keluarga Klojen memang dikenal smart dan brilian, warisan intelektual yang terus mengalir dari generasi ke generasi.
Di Bagian belakang rumah tampak temboknya habis selesai di renovasi. ternyata katanya sempat ambrol dimakan usia.
Makanya tampak kinclong saat aku ke kamar mandi. hehehe..
Tak terasa, matahari mulai condong ke barat. Kami pun berpamitan dengan hati penuh syukur. Perjalanan hari ini bukan hanya soal berkunjung—tapi tentang menghargai usia, merawat silaturahmi, dan menemukan kebijaksanaan di balik dinding gang sempit yang penuh sejarah.
OOO000OOO


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


