"Teman Waktu di Leces (2)"

"Teman Waktu di Leces (2)"

 

"Teman Waktu di Leces (2)"


Tepat di depan rumah Cak Agus Heri, aku hendak mengulurkan salam lebih dulu seperti biasa. 

Namun Cak Munif mendahului. Terpaksa kususul dengan salam tambahan agar tak terasa hambar.


Tak lama, terdengar jawaban dari dalam rumah. 

Sejujurnya, kami tak yakin tuan rumah ada—kami datang persis waktu Dhuhur, dan Cak Agus dikenal rajin ke mushola atau masjid. 

Tapi seperti kata pepatah: malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. 

Hari itu keberuntungan berpihak pada kami. 

Ternyata ia ada di rumah.


Dengan raut penuh tanda tanya, Cak Agus beserta istrinya menyambut kami. 

Mungkin karena posisinya sebagai Ketua RW, kedatangan tamu tak lagi mengherankan baginya. 

Yang mengejutkan: ia tak lupa padaku. 

Tangannya kujabat erat, tubuhnya kudekap—rasa rindu yang tertahan puluhan tahun tiba-tiba menggenang. 

Namun ia tampak penasaran dengan sosok di sampingku. 

Agak pangling.


Munif nyeletuk, "Biarkan saja bingung dulu, orangnya memang susah ditebak."


Tak berapa lama, Agus tersentak sadar. Matanya melebar. 

Kontan seribu makian bercampur tawa meledak—senang, jengkel, haru, semuanya menyatu dalam sapaannya pada Munif. 

Bhuahaha… Memang begitulah hubungan Agus Heri dan Munif: 

seperti Tom dan Jerry. 

Selalu saling mengolok, tapi tak pernah benar-benar berpisah.


Obrolan pun mengalir deras, membawa kami kembali ke masa kontrakan di Plerenan. 

Dari lima sekawan, Taufik adalah yang paling muda—tapi justru paling berani: dialah yang pertama menikah. 

Munif sering diusili Agus dengan pertanyaan klasik: "Tsumma man?" meniru hadis tentang berbakti kepada orang tua. 


Jadi begini,...

Ada hadist yang mengatakan “’An Abi Hurairah radiyallahu ‘anhu qala, ja-a rajulun ila Rasulillahi SAW,  faqala Ya Rasuمullah: man ahaqqu-nasi bihusni shahabatiy? Qala ummuka. Qala tsumma man? Qala tsumma ummuka. Qala tsumma man? Qala tsumma ummuka. Qala tsumma man? qala tsumma abuka,”.


Sampai suatu hari, kesal setengah mati, Munif menjawab singkat: "SUMPEK!"


Kami tertawa terbahak-bahak sampai terpingkal-pingkal. Bhuahahaaa…


Agus kini telah menjadi ayah tiga anak: seorang di Kalimantan, satu lagi di Riau, dan yang bungsu masih kuliah. 

Sebagai Ketua RW, ia mengerjakan semua laporan administrasi sendiri, dari keuangan hingga inventaris—tanpa bantuan sekretaris. Rajin memang wataknya.


Sementara Munif, ayah dua putra yang kini menjadi EO handal di bidang manajemen olahraga, 

Dan Dia sendiri tetap getol bermain saham. Ia bercerita tentang pergerakan IHSG hari ini, strategi profit taking, dan momen tepat untuk meraih capital gain. 

Dari obrolannya, barulah kusadari: ia kini menetap di Candi, Sidoarjo.


Kami bertiga larut dalam tawa dan kenangan—topik mengalir tak berujung, seolah waktu tak pernah memisahkan kami.


Sebelum pulang, kami sepakat mampir ke rumah Dwi—sahabat lama yang pernah menemani suka dan duka. 

Agus Heri memimpin rombongan dengan motornya, menggeber gas pol seperti anak muda, meski jalanan sempit berkelok. 

Memang darah premotor tak pernah padam.


Dwi… nama itu mengingatkanku pada masa ketika ia jatuh sakit karena patah hati. 

Sampai kubuatkan nasi bubur manual, dengan penuh kasih, yang akhirnya hanya dijilat sedikit. 

Kwkwk… 

Sakit sesaknya ternyata korban PHP: mencintai yang tak membalas.


Sayangnya, Dwi tak ada di rumah hari itu. 

Kami pun berbalik arah, kembali ke jalan pulang.


Semoga silaturahmi ini tak berhenti di sini. 

Semoga terus bersambung hingga akhir waktu.


Terima kasih, sahabat-sahabat lama.


Wallahu a'lam bish-shawab.  

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

---ooo000ooo---

Popular posts from this blog

Hari Pengganti Mantenan