Teman Waktu di Leces

Teman Waktu di Leces


 Teman Waktu di Leces


Kamis, 29 Januari 2026. Pagi masih malu-malu menyelinap lewat celah tirai ketika notifikasi WhatsApp bergetar pelan di genggaman. 

Sebuah kabar duka muncul di grup lama, grup yang dulu dibuat Pak Ali Mas'ud, kepala bagian yang karier gemilangnya membawanya hingga menjadi Kepala Dinas.

Sekarang malah rumahnya sekitar 1 km dari rumahku... 

Ada khabar dari Cak Priambodo, Isinya memberitakan kepergian Zainul Arifin, teman sekaligus tetangga di Perumahan KLI (Kertas Leces Indah), Desa Tegalsiwalan, Probolinggo.


Zainul—lahir 1963, berpulang Rabu, 28 Januari 2026. 

Namanya langsung mengusik memori lama. 

Dulu, di masa muda yang penuh gejolak, aku sering dijadikan "obat nyamuk" Pernah diajak kerumah Watio di Daerah Wonokromo atau di Rumah Kostannya di daerah Satelit Leces.

Meski teman-temannya mengolok2 aku, tapi aku ngga merasa risih... B-Aja kata anak jaman now...


Segera kuforward kabar itu ke Cak Munif, sahabat karib Zainul. Cak Munif yang asli Kauman, Mojokerto—tepat di belakang Masjid Agung Al-Fattah, tempat azan selalu mengalun lebih dulu sebelum fajar menyentuh bumi. 

Ternyata dia sudah lebih dulu tahu. "Dari Syamsul," katanya ringan lewat pesan suara, "dulu di bagian akunting PT. Kertas Leces. Diabetes yang akhirnya menjemputnya."


Ketika Cak Munif menawarkan menjemputku di Kedopok untuk ngelayat, kuterima dengan senang hati. "Sambil berenang minum air," batinku sambil tersenyum. Ngelayat dapat pahala, ketemu sahabat lama dapat tunutan kwkkw.


Cak Munif adalah teman satu kontrakan dulu. Kami berlima, semua cowok. ngontrak satu rumah di Plerenan, persis di depan rumah P. Nekrah (Bandar Cap Ji Kie) di Jl. Kyai Sekar. 

Taufik sendirian di kamar depan, Munif sekamar denganku, Agus Heri dari Bondowoso sekamar dengan almarhum Imam Suntoro dari Gresik. 

Semua tanpa dipan, hanya beralas kasur tipis. Hiks… masa itu sederhana, tapi hangat.

Banyak sebenarnya cerita yang perlu kuceritakan... mungkin lain kali saja...


Sabtu pagi,  31 Januari 2026 langit cerah berawan. 

Cak Munif datang tepat waktu bersama istrinya yang ramah. 

Kubuka pintu mobil dengan langkah ringan, lalu duduk di kursi penumpang depan sebagai navigator tak resmi. 

Begitu keluar dari perumahan, kuberi arahan pelan: "Belok kanan dulu, setelah Wonoasih ada perempatan, belok kiri…" Ternyata Cak Munif hanya butuh panduan sampai Wonoasih. 

Selebihnya, jalan-jalan Probolinggo masih melekat di memorinya seperti peta lama yang tak pudar. 

Baru di kawasan EMI (Embong Miring, Karena kebetulan jalannya berbelok dan agak miring jadi dapat sebutan Embong Miring) 

ia kembali bertanya arah hingga akhirnya kami tiba di Perumahan KLI (Kertas Leces Indah).


Rumah duka tampak teduh, dinaungi rindang pohon mangga di sampingnya. 

Tamu berjejal duduk bersila di atas tikar. suasana khas ta'ziyah Jawa Timur yang hangat dan sederhana. 

Hanya aku yang duduk di kursi kayu kecil; tubuh ini memang sudah tak lagi ramah dengan lantai. 

Di antara kerumunan, kulihat Ajeng bersama adiknya, Agus (dulu tetangga di Kertas Leces Indah juga).

Sejenak kubertukar ucapan belasungkawa dengan Tio isteri Almarhum Zainul

Sebelum ia bergegas menemui teman-teman SMAnya yang hendak pamit.


Usai kita berpamitan, Cak Munif tampak antusias. 

"Mau ke Ranu Bedali atau Klakah ya?" gumamnya, seolah mencari suasana lain. 

Tiba-tiba matanya berbinar. "Ah, bagaimana kalau ke rumah Cak Agus Heri? Sudah puluhan tahun tak jumpa…"


Kami saling pandang. 

Nomor telepon hilang. 

Alamat kabur. 

Hanya tersisa kenangan samar: rumahnya dulu tepat di belakang Pabrik Saki Probolinggo, di kawasan STI (Sumber Taman Indah).


"Tapi di mana persisnya sekarang?" Cak Munif mengernyit.


Kupejamkan mata sejenak, menggali ingatan yang tertimbun waktu. "Aku ingat ancer-ancer-nya saja," kataku pelan. "Tapi percayalah go head."


Mobil pun melaju: Kami melewati Perumahan Tigasan Komplek E yang dulu megah, juga Pabrik Kertas Leces yang pernah menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, kini kondisinya memprihatinkan. melewati Jorongan, Kedung Asem, hingga akhirnya sampai di kawasan Sumber Taman Indah. 

Percakapan mengalir sepanjang jalan—tentang Zainul yang suka bercanda, tentang Watio yang kini harus kuat sendiri, tentang masa ketika kami masih percaya umur itu abadi.  

Barulah kami sadar: kami telah tiba di Sumber Taman.


Sayangnya, tempat yang kami tanyakan ternyata masih jauh dari jelas. 

Warung kecil tempat kami bertanya baru tiga bulan buka, tentu saja tak mengenal alamat lama yang kumaksud. 

Sambil memutari jalan kecil, tiba-tiba sebuah nama menyala di ingatanku: 

Cak Joko Wiyono, penjual VCO yang rumahnya dulu dekat situ.


Kuhubungi ia lewat telepon. Dengan sigap, ia memberikan ancer-ancer yang tepat dan akurat. 

Ternyata rumah yang kami cari itu adalah rumah Pak RW, dan Cak Joko sendiri adalah sekretarisnya. 

Bhuahaha… dunia memang bulat. 

Dan persahabatan, meski tertimbun puluhan tahun, tetap punya caranya sendiri untuk kembali bersua.

(Bersambung)

---ooo000ooo---

Popular posts from this blog

Hari Pengganti Mantenan