TILIK BAYI
"TILIK BAYI"
Siang itu rumah terasa lebih hidup dari biasanya.
Datang tiga tamu istimewa: Bu Jasmadi, Bu Yoza, dan Bu Ratmono.
Orang Jawa bilang, ini namanya tilik bayi menjenguk bayi sekaligus menyambung silaturahmi.
Tapi rasanya bukan sekadar tilik bayi biasa.
Ada cerita, tawa, dan pelajaran hidup yang mengalir begitu saja.
Vibes mereka memang berbeda. Bu Jasmadi, lulusan FISIP Unair, berbicara lugas dan reflektif.
Bu Yoza, seorang akuntan, tenang namun penuh kisah.
Sementara Bu Ratmono, dokter hewan lulusan UGM, hadir dengan gaya khas yang membumi.
Latar belakang yang berbeda, tapi justru itulah yang membuat obrolan semakin kaya.
Asal-usul mereka pun beragam. Bu Jasmadi berasal dari Bojonegoro, sementara Pak Jasmadi dari Lamongan.
Bu Yoza ternyata dari Aceh.
Cerita jodohnya cukup menggelitik—dulu Pak Yoza pernah ngekos di rumah Bu Yoza,
Bahkan sekolah dasar mereka sama, namun tak pernah saling mengenal.
Takdir justru mempertemukan mereka lewat ta’aruf.
Aneh, tapi nyata.
Bu Ratmono pun demikian, sama-sama berasal dari Boyolali dengan Pak Ratmono.
Seakan semesta memang suka bermain-main dengan skenario yang tak terduga.
Obrolan kemudian mengalir ke pola asuh anak zaman sekarang.
Bu Jasmadi bercerita bahwa dunia anak hari ini sangat berbeda dengan dulu.
Akses informasi begitu mudah, bahkan harus benar-benar disesuaikan dengan usia dan kesiapan anak.
Begitu pula dengan asupan makanan—tak bisa asal kenyang, tapi harus dipikirkan dampaknya bagi tumbuh kembang.
Ada juga masukan berharga untuk CSR POMI.
Dalam masa persiapan pensiun, kata para ibu,
tidak cukup hanya dibekali rencana usaha atau aktivitas fisik.
Yang tak kalah penting adalah siraman rohani dan pencerahan batin,
agar bisa menerima keadaan apa adanya, dengan hati yang lapang.
Sebenarnya Bu Bing juga ingin ikut berkumpul, namun musibah datang lebih dulu.
Putranya mengalami kecelakaan saat bersepeda motor, tulang selangkanya harus dioperasi. Doa pun mengalir, semoga lekas pulih.
Soal anak, pembahasan berlanjut ke makanan.
Makanan bertepung, apalagi yang manis, ternyata kurang baik untuk tumbuh kembang anak.
Selain gizinya minim, efeknya bisa membuat anak hiperaktif.
Lalu Bu Dwi (Toko Kity) curhat pada Bu Jasmadi.
Anak-anak yang beranjak dewasa kini punya dunia masing-masing.
Orang tua sering merasa tak lagi dibutuhkan, bahkan useless.
Di situlah, kata Bu Jas, pelajaran hidup bekerja:
Belajar menerima kondisi adalah proses seumur hidup, bukan hanya di usia senja.
Bu Yoza pun berbagi kisah yang tak kalah menyentuh.
Adik Pak Yoza pernah menjalani program bayi tabung hingga dua kali,
masing-masing menghabiskan biaya sekitar 300 juta rupiah, namun belum berhasil.
Sampai akhirnya mereka cuti, menenangkan diri, dan lebih banyak bersama keluarga.
Justru di saat itulah, Allah memberi kehamilan secara alami.
Tadinya adiknya ngga percaya, takut di PHP,
Baru setelah 4 bulan ternyata hamil sungguhan. Luar biasa.
Pelajaran yang bisa dipetik sederhana tapi dalam:
Jika Alloh sudah berkehendak memberi rezeki,
Alloh bisa menghadirkannya lewat jalan apa saja.
Bu Jasmadi lalu menutup dengan cerita lain, tentang Rifky, anak Lumajang itu.
Ternyata Rifky adalah anak dari seseorang yang dulu menjodohkan Bu Jas dengan Pak Jas.
Lingkaran hidup yang tak disangka-sangka.
Sebenarnya masih banyak cerita yang disampaikan.
Bu Jasmadi dan Bu Yoza seolah berlomba-lomba berbagi kisah, membuat waktu terasa melaju cepat.
Tawa pun beberapa kali pecah, menyelingi obrolan yang hangat dan penuh makna.
Akhirnya, mereka pamit undur diri.
Salam disampaikan untuk Pak Jasmadi, Pak Yoza, dan Pak Ratmono.
Siang itu ditutup dengan hati yang hangat—karena silaturahmi, seperti rezeki, selalu membawa kebaikan di luar dugaan. 🌱
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
