Pagi yang Tak Terduga.

 

Pagi yang Tak Terduga.

Pagi yang Tak Terduga,

Obrolan yang Menghangatkan

 

Pagi itu, aku sengaja berjemur di depan rumah dengan membelakangi pagar, berniat menghangatkan punggung.
Kebetulan, rumahku menghadap ke timur, sehingga sinar matahari pagi menyapa dengan lembut dan hangat.

Tak berapa lama, suara mesin mobil pickup terdengar dan berhenti tepat di depan pagar.
Aku hanya diam, mengira itu kendaraan tamu tetangga yang sedang parkir sejenak. Namun, beberapa menit kemudian, pengemudinya turun dan bersuara agak lantang, “Kasur yang sebelah mana, Pak, yang akan diangkut?”

 

Aku terhenyak, segera berdiri dan menghampirinya. Sempat terkejut, kupikir ia datang untuk mengambil paket milik Rani. Ternyata, yang turun adalah Cak Pandu, teman lamaku semasa bekerja di Pabrik POMI. Wajahnya masih familiar, sikapnya pun tetap bersahaja, sama sekali tak menunjukkan kesan sombong meski tahun telah berganti.

 

Kami pun mengobrol singkat. Cak Pandu kini telah menjadi kakek dari empat cucu. Dari Roy, anak sulungnya, ia dikaruniai cucu laki-laki dan perempuan.
Cucu pertamanya sudah duduk di kelas 2 SD Integral tak jauh dari rumah, sementara yang kedua masih berusia tiga tahun dan sesekali dititipkan di daycare sebelum istrinya—seorang guru SD—mulai mengajar.

Dari Tiwi, anak berikutnya, ia mendapatkan cucu laki-laki semua.
Cak Pandu kini menempati rumah yang cukup luas di Perumahan SIR Paiton.
Di belakang rumah, ia masih menyisakan lahan hijau untuk berkebun, menyalurkan hobinya di masa pensiun dengan tenang.

 

“Ayo, kita ngobrol di luar saja,” ajaknya, menolak halus ketika kundang berbincang di dalam rumah. Aku pun segera bergegas mengganti celana pendek dengan celana panjang, mematikan laptop, dan mengunci pintu. Untungnya, tadi pagi aku sudah mandi, sehingga tak terasa canggung. “Sip,” batinku, sambil merasakan atmosfer yang berubah saat kami melangkah keluar.

agi yang Tak Terduga.
 

agi yang Tak Terduga.


Kami naik pickup menyusuri jalan, dan tak lama kemudian sudah tiba di depan Warung Kencur. Lokasinya ternyata dekat, di Jalan Barito, tak jauh dari Taufiqurrochim Engineering.

Alamat pastinya berada di kawasan yang masih dikelilingi persawahan, sekitar Jl. Barito, Kareng Lor, Kec. Kedopok, Kota Probolinggo.

Karena masih di area agraris, penomoran jalan belum tersedia. Dari lokasi warung, jika menengok ke selatan, terlihat RSUD Arrozy di kejauhan.
Tempatnya asri dan strategis. Setelah mobil diparkir, kami menelusuri jalan paving setapak di depan parkiran menuju area kafe.

 

Hal pertama yang kucari adalah tempat duduk yang empuk, sebab aku tak betah terlalu lama di permukaan keras. Beruntung, tersedia kursi anyaman yang cukup nyaman untuk diskusi santai. Aku memesan wedang jahe dan kopi tanpa gula, ditambah air mineral 600 ml. Obrolan pun mengalir dari hal ringan hingga ke dunia yang pernah kami geluti bersama.

 

Ternyata, meski sudah resmi pensiun, Cak Cak Pandu masih sangat dibutuhkan oleh pabrik.
Bahkan saat Cak Rochmad dan Pak Yoza menjalani pelatihan di Jepang, mereka sempat meneleponnya untuk meminta pertimbangan teknis.

Sepulang dari sana, Cak Rochmad masih merayunya untuk tetap memberikan arahan. Memang, para pensiunan POMI kualitasnya luar biasa; pengalaman dan keahlian mereka selalu relevan.

Saat ini, sistem Electrostatic Precipitator (ESP) dan Programmable Logic Controller (PLC) di Unit 7, 8, dan Unit 3 sedang dalam tahap renovasi total.
Penyesuaian ini mutlak diperlukan karena mutu batu bara semakin menurun, kandungan abunya meningkat, sehingga menuntut penanganan khusus dan modifikasi di berbagai titik operasional.

 

agi yang Tak Terduga.

agi yang Tak Terduga.

Suasana obrolan semakin hangat ketika Cak Juned ikut bergabung via panggilan video. Ia sedang berada di Sawojajar, Malang, menunggu toko keponakannya.

Namun, perlahan perutku mulai terasa mules. Ternyata, tubuhku yang sedang menjalani pola makan keto sangat sensitif terhadap jahe dan asupan karbohidrat.

Aku pun memutuskan untuk pamit dengan baik-baik.

 

Tak lama kemudian, kami sampai di Perumahan Green Royal. Aku menyampaikan terima kasih tulus kepada Cak Cak Pandu atas jamuannya—seharusnya akulah yang menjadi tuan rumah hari itu.

Pertemuan singkat ini mengingatkanku bahwa ikatan persahabatan dan profesionalisme yang tulus tak akan pernah luntur oleh waktu.

Semoga Allah membalas kebaikan dan keramahan Cak Cak Pandu dengan berkah yang berlimpah.
Pagi yang bermula dari terik matahari, berakhir dengan kehangatan silaturahmi yang tak terlupakan.


Alhamdulillah...

---ooo000ooo---

Popular posts from this blog

IZYAN SANG PENDAR CAHAYA ( Edgar )

Hari Pengganti Mantenan