Sabtu yang Penuh Syukur 2
Inti Tasyakuran & Syukur
Empat Alasan Syukur di Meja Makan Keluarga
Sebelum piring terisi, hati kami sudah lebih dulu dipenuhi rasa syukur. Siang itu, meja makan keluarga bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang kecil tempat kami menggelar tasyakuran sederhana.
Ibu membuka dengan suara lembut:
“Kita sengaja berkumpul disini agar untuk bisa mewujudkan rasa syukur kita. serta untuk mengingatkan diri sendiri atas nikmat yang sering terlewat.”
“Kita sengaja berkumpul disini agar untuk bisa mewujudkan rasa syukur kita. serta untuk mengingatkan diri sendiri atas nikmat yang sering terlewat.”
Empat alasan yang membuat kita bersyukur pada sore hari ini:
1️⃣ Doa keselamatan untuk seluruh keluarga besar. Yang sehat, yang sedang berjuang, dan yang rindu kami kumpulkan lagi.
2️⃣ Rezeki tak terduga untuk Ayah. Empat tahun purnabakti, ternyata masih ada kejutan berupa gogrokan yang membuat beliau tersenyum lebar.
3️⃣ Ibu resmi naik pangkat dari PNS Gol. IV/A ke IV/B. Sebuah pengingat bahwa kesetiaan pada tugas selalu punya jalannya sendiri.
4️⃣ Mas Prima akhirnya membawa pulang mobil baru. Pagi tadi, kami semua meluncur bersama di dalamnya. Tanda bahwa kerja keras keluarga perlahan membuahkan hasil.
Ayah (aku) lanjutkan dengan doa bersama dan dalam doa, kita menyerahkan setiap langkah pada Yang Maha Mengatur.
“Amin” yang menggema bukan akhir, melainkan pembuka untuk menikmati hidangan yang sudah menunggu.
Di tengah kehangatan itu, aku tetap setia pada komitmen pola makan rendah karbohidrat. Kali ini, pilihanku jatuh pada dua porsi dadar telur, dua porsi ayam kanton, dan wedang jahe hangat tanpa gula. Kopi? Kutunda dulu. Stok di rumah masih cukup, dan rasanya lebih bijak menghabiskannya perlahan, seperti syukur yang tidak perlu diburu, tapi dinikmati.
Sementara itu, Edgar si kecil hanya menatap kami dari gendongan. Empat bulan usianya, menu hari ini hanya ASI dan sufor sesuai anjuran dokter. Ia belum butuh makanan padat, tapi sudah belajar dari suasana: bahwa meja ini bukan cuma soal rasa, tapi juga rasa syukur.
Di setiap suapan, di setiap tawa yang pecah, di setiap tangan yang merapat, kami sedang belajar satu hal sederhana:
Bersyukur bukan menunggu sempurna, tapi menemukan lengkap dalam yang sudah ada. 🤲🍽️✨
Bersyukur bukan menunggu sempurna, tapi menemukan lengkap dalam yang sudah ada. 🤲🍽️✨
📖 Bersambung di Part 3: Bagaimana kami menjaga momen ini tetap sederhana di tengah hiruk-pikuk dunia.
---ooo000ooo---





.jpeg)







