Reuni Penuh Rasa Temu Kangen Keluarga Besar PT. POMI

 

Reuni Penuh Rasa   Temu Kangen Keluarga Besar PT. POMI

Reuni Penuh Rasa   Temu Kangen Keluarga Besar PT. POMI

Reuni Penuh Rasa   Temu Kangen Keluarga Besar PT. POMI

Reuni Penuh Rasa   Temu Kangen Keluarga Besar PT. POMI

Reuni Penuh Rasa   Temu Kangen Keluarga Besar PT. POMI


Reuni Penuh Rasa

 Temu Kangen Keluarga Besar PT. POMI

Sabtu, 30 Mei 2026

 

Hari itu POMI kembali hidup. Bukan dengan suara mesin, tapi dengan tawa 60 orang alumni yang rindu berkumpul.

 

Sejak pagi, daftar hadir sudah ramai. Panitia ibu-ibu sigap nyatet nama satu-satu. Katanya, "Biar keliatan tahun depan kita harus sewa gedung lebih gede lagi" 😄 Inisiatif kecil yang jadi acara besar.

 

Acara dibuka dengan sambutan Pak Sugiarto. Beliau bilang, POMI dulu dan sekarang tetap sama: kerja kompak, hasil maksimal. Meski tantangan beda, semangatnya nggak pernah pudar. Disusul Pak Bambang Jiwantoro yang Penuh semangat dalam bercerita, "Ini semua gara-gara obrolan iseng ibu-ibu. Nggak nyangka jadi beneran". Memang ya, ide besar sering lahir dari candaan.

 

Yang bikin haru, deretan senior duduk bareng: Pak Sugiarto, Pak Rochman HR, Pak Bambang, Pak Suharso, Pak Jasmadi, Pak Fajri, Pak Slamet, dan lainnya. Senior-senior yang dulu kita segani, sekarang jadi teman ngobrol ngalor-ngidul.

di bangku-bangku berikutnya ada Pak Rahmadi, pak Okto, pak Kunkun pak Bustanul dan Pak Arif.M dan saya sendiri..

 

Kemudian ada juga Pak Wid, pak Gigih, Pak Totok, Pak Ratmomo, Pak Pandu, Pak Hasyim Pak Didik Purwo, Pak Bing, Pak Didik(Pak Ninik), Pak Dwi, Pak Sukri, Pak Haryanto, Pak Ido, Pak Suwardi, Pak Kholidul dan Pak Ngadirin.

Game awal Adalah tebak lagu, yg langsung dengan mudah ditebak oleh Pak Edi Suseno yg memang seorang vokalis POH…hehehe…

Game seru-seruan pecah. Yang ikut lomba ketawa, yang nonton juga ikut teriak. Saya milih jadi penonton setia. Toh rezeki nggak kemana, saya kebagian hadiah juga hihihi.

 

Jeda makan siang jadi sesi nostalgia paling panjang. Sambil suapin nasi, cerita "bagaimana dulu menunggu Bis Pak Totok atau Pak Suwardi,  gimana" keluar semua. Puncaknya pas Pak Harso naik ke depan. Nggak pake basa-basi, langsung "My Way". Suaranya berat, penuh kenangan. Satu aula diem, dengerin. Kayak balik ke masa muda lagi.

 

Saya coba ambil foto dari angle jongkok biar cakep. Lutut protes, akhirnya pasrah. Yaudahlah, yang penting momennya keabadikan, nggak harus sempurna fotonya.

 

Doa penutup dipimpin Pak Hariyanto. Seketika riuh jadi hening. 60 orang, satu suara. Rasanya semua rindu, lelah, dan syukur numpuk jadi satu.

 

Pas bubar, nggak ada yang buru-buru pulang. Masih ada yang memanfaatkan photoboth atau saling berSalaman, pelukan, dan tebar senyum. "Tahun depan lagi ya Pak - Bu". Waktu yang ngalah, bukan rindunya.

 

Terima kasih panitia ibu-ibu hebat. Karena kalian, POMI nggak pernah benar-benar pensiun di hati kami.

 

---ooo000ooo---

 

Popular posts from this blog

IZYAN SANG PENDAR CAHAYA ( Edgar )

Sabtu yang Penuh Syukur 1