Posts

Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki

Image
  Mengantar Takziah ke Rumah Almarhum Masduki Slamet ikut mengantar takziah ke rumah almarhum Masduki—jaraknya tak jauh, hanya sekitar dua kilometer dari rumahnya. Perjalanan kembali membawa kami melewati jalan dekat Masjid At-Taqwa, namun kali ini kami berbelok ke arah barat, menuju sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari pom bensin Gasoline 92. Rumah almarhum unik: ia menghadap dua arah sekaligus—selatan dan barat. Satu sisi menghadap jalan utama, sementara sisi lainnya menghadap pelataran terbuka, memberi kesan hangat dan terbuka bagi siapa pun yang datang. Masduki adalah anak kedua dari empat bersaudara laki-laki. Kakak tertuanya bernama Toat, lalu Masduki sendiri, disusul oleh adik-adiknya yang masing-masing berprofesi sebagai guru dan polisi.  Keluarga ini merupakan keturunan dari adik Mbah Matsningso. Mbah Matsningso sendiri memiliki tiga putri—Patonah, Katoyah, dan Toyibatun—serta seorang putra bernama Suwardi, yang lahir dari ibu yang berbeda. Menariknya, Mbah Matsn...

Ke Rumah Slamet

Image
Ke Rumah Slamet Ke Rumah Slamet Usai menikmati seporsi sate kambing yang gurih di Warung Sate H. Faqih 1 di Jalan Mojowarno, kami melanjutkan perjalanan tak jauh, hanya sekitar 1 kilometer. Di sanalah, di sebuah simpang kecil, kami berbelok masuk. Penanda utamanya? Buk Grujuk. Kami menyebutnya Buk Grujuk karena suara aliran sungai kecil di sana yang mengalir deras— grujug-grujug —meski perbedaan ketinggian airnya hanya sekitar 1 meter. Tapi justru dari situlah nama itu lahir: grujuk, dari desau air yang tak pernah berhenti bernyanyi. Jalan yang kami masuki bernama Jalan Gerilya—sebuah nama yang selalu melekat dalam ingatan. Dulu, jalan ini merupakan jalan kembar, meski permukaannya masih tanah. Seiring waktu, sisi selatan tak lagi difungsikan; banyak warga membangun rumah hingga menjorok ke badan jalan. Untungnya, sisi utara kini sudah diaspal, membuat akses jadi lebih lancar. Sesampainya di depan masjid kecil  Masjid At Taqwa   di ujung jalan, cukup belok kanan—kemudian ada g...

Mampir Makan di Cukir

Image
 Mampir Makan di Cukir  Sate, Rawon, dan Misteri Pakde Yanto yang Anti-Daging Sampai di Jombang? Sudah lewat jam 12 siang—perut pun langsung nyala seperti lampu kuning di lampu lalu lintas. Tanpa basa-basi, kami langsung mampir ke Warung Sate H. Faqih 1 di Cukir.    Lokasinya gampang banget ditemukan: lewat Pabrik Gula Tjoekir, belok ke arah Jl. Mojowarno, lalu sekitar 100 meter dari pertigaan—voilà! Warung legendaris itu sudah menyambut dengan aroma sate yang bikin ngiler dari kejauhan.   Daerah ini memang strategis banget. Dekat Pondok Pesantren Tebu Ireng, juga tak jauh dari Makam Gus Dur —jadi selain kenyang, hati pun rasanya adem.   Kami langsung gegas pesan: sate, rawon, plus minuman hangat—ada teh panas taar (yang pahitnya pas!), teh manis, sampai jeruk panas buat yang pengin vitamin C sekaligus hangat. Sayang, gule-nya belum mateng, jadi nggak ikut dalam daftar pesanan hari ini.   Tapi… ada satu teka-teki yang bikin kami geleng...

Antara Parade Sekolah dan Kebersamaan Keluarga

Image
  Menuju Jombang Antara Parade Sekolah dan Kebersamaan Keluarga Setelah urusan di rumah Ana selesai, kami langsung tancap gas ke rumah P akde Kaseno —yang alamatnya cukup lengkap dan mudah ditemukan:   Jl. Arjuno No. D94, Dusun Larangan, Kec. Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur .   Kalau pakai GPS, tinggal klik (https://maps.app.goo.gl/HaTgNZwzczpMEK5m9) dan voilà —kita sampai di rumah yang penuh cerita. Pakde Kaseno punya dua putri: Olve  dan Dea .   Olve sudah berumah tangga dengan Deny, dan mereka dikaruniai tiga anak yang menggemaskan:   Adam Ibrahim Irawan  (si satu-satunya cowok), lalu Cita  dan Aisyah —duo cewek yang pasti bikin rumah jadi ramai.   Sementara Dea, meski sedang menghadapi masa sulit dalam rumah tangganya dengan Novan, tetap kuat dan penuh kasih. Saat ini, ia dan kedua putrinya— Aisha Farhananda  dan Syafia  (yang akrab dipanggil Sisi )—tinggal sementara di rumah Pakde di kawasan Laran...

Ke Rumah Ana

Image
Melanjutkan cerita Takziah atas meninggalnya   Masduki Guru. yaitu  Pada Rabu Kliwon, 15 Oktober 2025, Kami mampir dulu ke Rumah Ana karena belum sempat kesana saat dia menikahkan Putranya.. "Ke Rumah Ana" Antara Truk Lambat dan Keputusan Bijak lewat Tol. Sebelumnya kita harus mengambil makanan yang telah kita pesan sehari sebelumnya, Tepatnya di Jalan Juanda no 65. Lokasinya tak jauh dari Rumah Pak Budi Shari   Setelah selesai , kami pun bersiap untuk lanjut ke tujuan berikutnya: rumah Ana.  Ana? Ya, teman lama kami sejak masa STM dulu! Dulu. Rumahnya di daerah Wonorejo, tapi sekarang ia sudah pindah ke Bangil, mengikuti suaminya (yang sayangnya telah berpulang beberapa tahun lalu). Kini, Ana tinggal di Jalan Sungkono—atau kalau menurut warga sekitar lebih dikenal sebagai Jalan Pepaya—nomor 360, RT 01/RW 01, Pogar, Bangil. Tepatnya di gang Makam Pogar Barat.   Awalnya, saya sengaja memilih rute bawah, bukan lewat tol. Pikir saya, rumah Ana kan dekat k...

Mengenang Masduki Guru

Image
 Mengenang Masduki Guru: Sebuah Teladan Kesederhanaan dan Ketulusan Oleh: Keluarga Besar "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un"  " Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali ". JOMBANG – Kabar duka itu datang di pagi buta, menyapa dengan getirnya. Pada Rabu Kliwon, 15 Oktober 2025, pukul setengah lima pagi, sang fajar menyambut pulangnya seorang hamba yang taat: Masduki Guru. Kabar kepergiannya kami terima dari Isteri Slamet di Jombang, membawa duka yang dalam bagi seluruh keluarga besar. Bagi kami, Masduki bukan hanya sebuah nama. Ia adalah seorang saudara, seorang ayah, seorang guru, dan bagian dari akar pohon keluarga kami yang kokoh. Sebagai Saudara: Sang Anak Kedua yang Menjadi Tiang Masduki hadir di dunia sebagai anak kedua dari empat bersaudara, semuanya laki-laki. Dalam susunan posisinya, ia bagai tiang tengah yang ikut menopang. Sang kakak, Toat, memilih jalan ketelitian sebagai seorang penjahit. Sementara kedua adik...

Novandi, si pelukis dari Jakarta

Image
  "Kangen," katanya, tapi aku tahu ada udang di balik bakwan. Novandi, si pelukis dari Jakarta itu, tiba-tiba muncul di Probolinggo dan mampir ke rumahku. "Sekalian ngawasin renovasi rumah anak," lanjutnya sambil terkekeh. "Mandor gratisan, terpercaya pula. Lha wong bapaknya!" Jadi, begitulah ceritanya. Novandi, yang seharusnya menikmati hiruk pikuk Jakarta, kini berada di Probolinggo, mengawasi tukang bangunan. Anaknya, yang mengikuti suaminya kembali ke kota ini, memang sudah lama menetap di Jakarta. Namun, takdir berkata lain. Suami anaknya, anak semata wayang, terpaksa kembali ke Probolinggo setelah Orang tuanya meninggal. Rumah mereka, yang terletak di belakang Museum Kota Probolinggo, sedang direnovasi, dan Novandi-lah yang ditunjuk sebagai pengawas. Di sela-sela kesibukannya, Novandi menyempatkan diri mengobrol denganku. Seperti biasa, obrolan kami ngalor ngidul, dari hal-hal ringan hingga perbincangan serius tentang dunia seni. Ada...